“Kita ingin RSD Tidore bukan hanya menjadi tempat orang datang berobat, tetapi menjadi sebuah ekosistem pelayanan kesehatan yang lengkap. Dari gedung perawatan yang representatif, layanan unggulan yang semakin kuat, sampai fasilitas pendukung seperti kafe, kantin, Medika Mart dan Apotek Medika Farma. Semua harus terintegrasi, dikelola secara profesional, dan pada akhirnya kembali untuk memperkuat pelayanan kepada masyarakat,” tambahnya.
Menurut Megawati, pengembangan unit usaha BLUD bukan sekadar mencari tambahan pendapatan, tetapi merupakan strategi untuk membangun kemandirian rumah sakit.
“Target kita sederhana tetapi besar: pelayanan semakin kuat, masyarakat semakin nyaman, dan BLUD semakin mandiri. Kalau kita mampu membangun sumber pendapatan sendiri secara sehat, maka semakin besar pula ruang kita untuk berinvestasi kembali pada pelayanan, sarana prasarana, alat kesehatan dan pengembangan SDM,” tegasnya.
Seluruh rencana akan disusun dalam roadmap pengembangan yang memiliki skala prioritas dan tahapan yang jelas, sehingga pembangunan tidak berjalan parsial, melainkan menjadi bagian dari transformasi RSD Tidore dalam jangka panjang.
Rapat tersebut dihadiri Dewan Pengawas RSD Tidore Kepulauan, Anggota Dewan Pengawas yang terdiri dari Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Kepala Dinas Kesehatan, dan Sekretaris Dewan Pengawas.