Selama pelatihan, peserta dibekali materi teori sekaligus praktik resusitasi jantung paru (RJP) menggunakan alat peraga medis. Berbagai simulasi penanganan kasus juga dilakukan untuk mengasah kemampuan peserta menghadapi situasi darurat, baik di lingkungan rumah sakit maupun di luar fasilitas pelayanan kesehatan.
Direktur RSUD Labuha, dr. Titin Andriyanti, mengatakan, pelatihan tersebut merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, kasus henti jantung maupun henti napas dapat terjadi kapan saja sehingga tenaga kesehatan harus selalu siap memberikan pertolongan pertama sebelum pasien memperoleh penanganan lanjutan.
“Kegiatan ini penting karena kejadian henti jantung bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dan dapat menimpa siapa saja,” kata dr. Titin.
Ia berharap, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan Bantuan Hidup Dasar dapat memperkuat layanan kegawatdaruratan di RSUD Labuha sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan. (nan)
