SANANA – Kondisi rumah batik di Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) memprihatinkan. Padahal, rumah untuk tempat pembuatan batik khas Sula itu, sudah dibangun sejak 2018 dengan menggunakan anggaran daerah.
Amatan koran ini, bangunan rumah batik berdinding batang daun rumbia dan beratapkan daun rumbia itu, sebagian sudah dilingkari tanaman menjalar. Tak ada satu petugas pun yang tempati bangunan tersebut. Tak ada fasilitas penunjang pembuatan batik. Bahkan tiga unit bangunan rumah batik itu sebagian belum selesai dibangun.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kepsul, A. Fataha Umasangaji beralasan belum difungsikan lantaran masih ada Pandemi Covid-19, sehingga petugas di rumah batik diistirahatkan. “ Suasana Covid-19 ini jadi mereka istirahat,” katanya, Rabu (22/7).
Fataha menyampaikan, jika kondisi Covid-19 sudah kembali normal, maka petugas kembali bekerja.” sekarang mereka (pengrajin batik) juga takut masuk kerja,” ujarnya.
Rumah batik yang dibangun menggunakan APBD Kepsul 2018 sebesar Rp 120 juta itu, hingga kini belum ada proses produksi untuk dipasarkan. Namun hanya produksi terbatas untuk promosi. “Batik Sula ini belum produksi massal. Kalau kita pesan mereka produksi. Tapi produksi secara umum itu belum,” tambahnya.
Dia mengelak, jika anggaran pembangunan rumah batik dipungut dari kecamatan. “Itu tidak benar. Itu (rumah batik) anggarannya dari PMD,” ucap Fataha.(nai)

