Sasaran 42 Ribu Masyarakat Morotai Divaksin

Julius Giscard Kroons

DARUBA – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai, Julius Giscard Croons, mengatakan pelaksanaan vaksinasi di Kabupaten Pulau Morotai akan dilakukan secara bertahap.

Untuk tahap pertama, kata dia, yaitu tenaga kesehatan, berikutnya para pelayan publik meliputi TNI/Polri dan seluruh petugas yang berhubungan dengan masyarakat, pejabat, barulah yang terakhir adalah masyarakat.

“Untuk pejabat sekarang masih menunggu petunjuk dari provinsi, yang sudah melakukan pencanangan vaksinasi,” ungkap Julius saat dikonfirmasi di kantornya, Kamis (14/1/2021). Untuk Bupati sendiri, menurut Julius, sangat mendukung kegiatan vaksinasi dan siap divaksin. Bahkan pihaknya berharap pencanangan vaksin bisa dilakukan langsung oleh Bupati.

“Cuma pejabat publik dia layak di vaksinasi bila mana sudah melewati screening kesehatan, karena ada beberapa kontra indikasi itu, kalau ada yang masuk di situ berarti dia tidak layak untuk menerima vaksin, usia juga salah satu, tapi yang paling utama itu dia pernah terkena Covid atau tidak. Pak Wakil tidak masuk dalam daftar, Sekda setahu saya sampai sekarang belum pernah terkonfirmasi positif Covid, cuma mungkin nanti kita cek lagi,” katanya.

Sasaran vaksinasi khususnya untuk masyarakat, lanjut dia, berjumlah 42 ribu orang. “Kita berharap sasaran ini (42 ribu orang, red) yang nanti bisa berpartisipasi atau bisa menerima vaksin. Saya sendiri bisa masuk dalam sasaran, dan saya siap di vaksin,” ujarnya. Julius kembali menjelaskan, vaksinasi ini hanya dilakukan kepada mereka yang belum pernah terpapar Covid, sedangkan yang pernah terpapar tidak akan divaksin.

Selain itu, ada beberapa jenis penyakit seperti panemia, kencing manis, sakit jantung dan beberapa penyakit lainnya yang masuk dalam daftar kontra indikasi maka tidak bisa divaksin.

“Nanti kita screening lagi, screening kesehatan untuk memastikan, walaupun dia belum pernah terinfeksi Covid kita hawatir ada sakit-sakit lain yang mungkin ada panemia, kencing manis, ada sakit jantung, ini menjadi kontra indikasi. Jadi tanpa sreening kesehatan kita belum bisa putuskan bahwa ini layak untuk divaksin atau tidak, jadi nanti kita lalui itu tahapan pemeriksaan dulu,” timpal Julius.

Ia menambahkan, dengan sisa waktu tiga bulan ini pihaknya akan intens melakukan sosialisasi mengenai vaksin, sehingga bisa meyakinkan masyarakat.

“Kita akan libatkan semua stekholder baik itu tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi, bahkan sampai ke desa, jadi kades kita libatkan, imam, pendeta. Kita harapkan dengan adanya sosialisais akan menimbulkan kepercayaan masyarakat terhadap vaksin, maka masyarakat bisa dengan sendirinya sadar dan ingin untuk divaksin,” tuntasnya. (fay)