Sejumlah Desa di Sula Jadi Langganan Banjir

SANANA – Sejumlah desa di Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara telah menjadi langganan banjir setiap tahun saat musim hujan.

Sesuai amatan Fajar Malut titik banjir tersebut diantaranya, Desa Umaloya, Desa Mangega, Desa Waihama, Desa Wai Ipa, Desa Waitina, Desa Mangoli dan sekitarnya.

Buktinya, sejak semalam mulai dari Desa Umaloya, Wai Ipa, Desa Waihama dan Desa Mangega telah terjadi banjir hingga air meluap dan masuk ke rumah warga.

Adi Kailul, salah satu korban banjir di Desa Umaloya, mengatakan, kali Waiwaha meluap sekira jam 04.00 WIT dini hari saat itu dirinya sedang tertidur lelap namun dibangunkan oleh istrinya.

” Rumah saya terendam banjir sejak semalam sampai sekarang seperti yang kalian lihat air belum juga surut. Kami masak saja belum bisa, jadi kami nanti membeli nasi bungkus saja,” ucapnya.

Selain itu, Kepala Desa Umaloya, Heder Kailul menyampaikan, untuk desanya ini terbiasa dengan langganan banjir setiap tahun. Hal ini pun pemerintah daerah juga sudah melakukan upaya penanganan dengan membuat talud di kali Waiwaha.

” Adanya banjir sejak semalam. Pihak pemerintah daerah mulai dari Sekretaris Daerah (Sekda) Muhlis Soamole, Kadis PMD, Rahmat Sillia, Kadis PUPR Jainudin Umaternate maupun pihak BPBD, mereka di sini sampai pukul 05.00 WIT dini hari baru balik,” ungkapnya kepada awak media, Sabtu (10/05/2025).

Dia menambahkan, peristiwa semalam tidak ada warganya yang mengalami korban jiwa maupun kerugian materil.

” Saat air meluap kami dari pemerintah desa membangunkan semua warga untuk berikhtiar serta keluar dari rumah menjaga agar jangan terjadi permasalahan yang kita tidak inginkan,” jelasnya.

Terpisah, Wakil Bupati Kepulauan Sula, M. Saleh Marasabesy menuturkan, dengan adanya peristiwa banjir di beberapa titik desa, pemerintah daerah sendiri sudah menaruh perhatian serius. Terutama di Desa Umaloya dengan cara melakukan normalisasi kali serta membuat talud penahan banjir.

” Debit air dari arah gunung terlalu kencang sehingga seperti talud maupun drenase yang ada tidak mampu menahan lajunya air. Sehingga air bisa meluap dan masuk ke rumah warga,” ucapnya.

Selanjutnya, dia menyampaikan, pemerintah daerah akan berusaha mencari solusi agar membuat saluran pembuangan alternatif agar air dengan mudah bisa keluar ke tepi pantai.

” Tadi sejumlah OPD sudah turun langsung ke lokasi banjir untuk melihat hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat terutama warga yang terdampak banjir,” tandasnya.

Sekedar diketahui, rumah warga yang terendam banjir sekira 30 rumah. Dan saat ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah membangun posko di lokasi banjir. (**)