Selamat Menyambut Perayaan Fanten 2022

Pada sore hari itu pula, sebelum para tamu dipersilahkan untuk masuk ke dalam sabua yang telah disediakan untuk memulai doa awal pembacaan dzikir yang akan dilangsungkan pada malam harinya, peserta Fanten dari Desa Kipai, lalu menyajikan sebuah drama untuk dipentaskan (biasanya dilakukan oleh para pemuda) dengan menyesuaikan drama yang ada, sesuai dengan makna dari adanya benteng yang dibuah oleh peserta dari Desa Wailegi.

Usai pementasan tersebut, acara seremoni dilangsungkan, dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh seorang qori/qoriah dan ditutup dengan siloloa Sangadji atau oleh Kepala Desa dari Wailegi. Setelah tamu dipersilahkan masuk ke dalam benteng atraksi tari cakalele, menjadi pembuka untuk menuju pada ruang sibua. 

Setelah rangkaian seremoni di atas selesai barulah pada jamaah Fanten asal Desa Kipai ini, kemudian dipersilahkan untuk masuk kedalam sabua dan memilih tempat duduk yamg telah disediakan sesuai dengan gerak tuntunan hati mereka, tanpa terlebih dahulu mengetahui si pemilik dari bangku/kursi yang disediakan.

Sebab, dalam tata cara pengaturan ber Fanten, tidak diperbolehkan sama sekali, bagi orang-orang yang masuk dalam kepesertaan untuk saling memberitahukan antar satu dengan lain kepada pihak peserta dari Desa Kipai, dengan pengecualian hanya untuk mereka yang kursinya berada di posisi tengah (Sangadji, kepala desa, kedua imam, dan juga 7 baris samping kanan dan kiri dari Sangadji maupun para imam).

Biasanya ada dua bentuk pengaturan jejeran kursi yang digunakan saling berhadap – hadapan. Yakni, kelompok yang dibawahi oleh Sangadji, kapita Lao, dan juga kepala desa berserta perangkat mereka yang disebut dengan pasukan adat, sementara untuk pasukan sara’a, dibawah jejeran para imam, qadi dan juga perangkat mereka.

Prosesi yang dilakukan oleh sore hari ini, adalah merupakan bagian dari pembuka untuk memberi siloloa, mengetahui dan memastikan posisi duduk para peserta dan untuk memulai pembacaan doa awal sekaligus sebagai mintahan dari warga, dalam ungkapan rasa syukur mereka atas segala rejeki, baik sehat, keberkahan atas kelimpahan pertanian, perkebunan, dari segala hasil yang telah menghidupi masyarakat kedua desa tersebut, juga atas ungkapan terima kasih dan perlindungan kepada Allah SWT, agar kampung beserta isinya terhindar dari segala marah bahaya dan bencana.