Siswa SMP 3 Ternate Tampil di Rakernas APEKSI

TERNATE – Siswa SMP Negeri 3 Kota Ternate ambil bagian di kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Balikpapan pada tanggal 1 sampai 6 Juni 2024.

Dimana, pada festival Seni Budaya Nusantara SMP Negeri 3 mengirimkan enam orang siswa, dua pelatih dan Kepala Sekolah SMPN 3 Kota Ternate Wahda S. Umsohy, pada event nasional kali ini SMP 3 Ternatr akan menampilkan tarian Salai Malom.

Wahda mengatakan, tarian Salai Malom yang akan ditampilkan siswa SMP Negeri 3 Kota Ternate pada APEKSI kali ini merupakan kolaborasi tarian patriotik dan tarian pergaulan yang berasal dari Maluku Utara. Tarian ini dibawakan oleh  penari yang ditarikan secara berpasangan. Gerakan Salai Malom diambil dan merupakan perpaduan tarian soya-soya, dana-dana, dan lalayon.

Menurut dia, tarian soya -soya atau juga dikenal dengan tarian perang merupakan tarian tradisonal yang dipercaya telah ada sejak jaman Kesultanan Ternate.

“Tarian soya soya yang berarti pantang menyerah dan juga dapat dimaknakan sebagai penjemputan. Soya – soya merupakan ungkapan kebangggan mereka terhadap perjuangan para pendahulu dalam mengusir penjajah negeri Ternate yang sangat kaya,” ungkapnya, pada Rabu (29/5/2024).

Tarian ini kata dia, terinpirasi dari peristiwa penyerbuan tentara Ternate ke benteng Kastela atau benteng Notra Senora Del Rosario di Ternate yang diduduki oleh Portugis. Selanjutnya tarian ini digunakan untuk membangkaitkan semangat prajurit kesultanan Ternate dalam berperang. Dan gerakan pada tari Soya – Soya merupakan gerakan yang khas karena menggambarkan Gerakan menyerang, mengelak, dan bertahan seperti halnya ketika berperang.

Dia menyebut, sementara tarian Lalayon biasanya dibawakan dalam berbagai acara-acara formal seperti pesta adat atau perkawinan.

“Tarian ini adalah karya etnik Maluku Utara yang mudah menyatu, karena masih banyak diketahui oleh para generasi muda Ternate. Mereka sangat mendukung tarian ini, karena nilai universal yang terkandung di dalam tarian Lalayon,” sebutnya.

Lanjut Wahda, tarian ini juga bermakna sebuah ucapan syukur atas berbagai anugerah Yang Maha Kuasa terhadap manusia dalam bentuk alam serta makhluk hidup di dalamnya. Ucapan syukur ini dituangkan dalam bentuk rasa sayang dan perhatian yang selalu diwujudkan dalam keseharian hidup manusia.*
Editor : Hasim Ilyas