STQH : Vaksinasi Rohani

Al-Qur’an sebagai Obat Imunitas

Kendati Al-Qur’an bukanlah buku kesehatan, tetapi tidaklah sulit untuk menemukan bukti dan petunjuk tentang bagaimana Al-Qur’an memberikan solusi kesehatan. Sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Isro’:82 yang menyatakan bahwa Al-Qur’an dapat menjadi obat penawar (syifa’) bagi manusia. Begitu juga dalam sejumlah hadits, salah satunya Nabi menjelaskan bahwa Al-Qur’an dapat menjadi bacaan yang menyembuhkan (ruqyah) bagi sejumlah penyakit fisik. Bila membaca Al-Quran dilakukan secara ikhlas, dengan izin Allah maka seseorang akan mendapatkan kebugaran dan kekuatan imunitas. Resonansi Qur’an yang menggaung di Kota Sofifi diharapkan dapat memukul wabah corona ini.

Lebih jauh lagi, Rasulullah menjelaskan dengan argumentasi yang rinci untuk membuktikan bahwa agama Islam memerintahkan muslim guna berfikir, merenung dan berangan-angan tentang kandungan Al-Qur’an, yang berisi tentang hujjah yang nyata.

Saat ini merupakan momentum yang tepat bagi umat Islam untuk mengkaji kembali intisari Al-Qur’an. Sehingga Al-Qur’an dapat menjadi ibroh atau suri tauladan bagi manusia. Jangan sampai umat lupa mengkaji Al-Qur’an sehingga hukum-hukumnya menjadi mandeg. Pemerintah perlu terus mensosialisasikannya supaya nilai-nilai Qurani terus hidup. Salah satu cara dalam mensyiarkan hal tersebut ialah dengan mengajak masyarakat supaya dirangsang agar dapat memahami dan menghayati makna kalam ilahi melalui kegiatan STQHN ini.

Hakikat STQHN adalah deklarasi terperinci tentang makna Qur’an dan Hadits, pemaklumatan tauhid, pengasahan dzauq imani, sehingga ritual ini tanpa disadari mampu membangkitkan kerinduan manusia kepada sang Pencipta, bahkan ia mampu meningkatkan imunitas ragawi maupun ruhani. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Az-Zumar: 23 “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah

Hendaknya ketika membaca, melihat, mendengar lantunan ayat-ayat suci, qori’ merasakan bahwa Allah sedang berbicara dengannya. Setiap Allah mengisahkan ancaman, maka hendaknya merasa bahwa kita sedang diancam. Dengan begitu Al-Quran akan terasa hidup dan mampu menyirami hati dengan taujih-taujih yang menyentuh serta mampu melunakkan hati setiap pembaca dan pendengarnya.

Para peserta STQH Nasional di Maluku Utara adalah bibit-bibit bangsa pilihan, berakhlak mulia, yang nantinya akan meregenerasi ulama di kemudian hari. Mudah-mudahan STQH Nasional di bumi Sofifi ini dapat meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai–nilai al-Qur’an untuk mewujudkan generasi milenial Qur’ani yang unggul menuju Indonesia hebat dan maju.(*)