Dokumen berisi hasil pembahasan FGD pun diserahkan oleh Presidium Madopolo KARAMAT M. Ronny Saleh ke Sejarawan UI Prof. Susanto Zuhdi, untuk persiapan agenda Seminar Nasional.
Seminar perdana sukses digelar di Pandopo Kedaton Kesultanan Ternate, Kamis 15 Agustus 2019. Lalu disusul dengan Seminar kedua di Gedung I FIB UI, Depok, Jawa Barat, Kamis 12 Desember 2019.
Dari seminar kedua itulah sketsa wajah Sultan Baabullah Datu Syah – yang dibuat berdasarkan narasi dalam karya Francis Drake, Echoes of the Dragon’s Drum, 1679 – ditampilkan secara perdana.
Sketsa wajah Sultan Baabullah lebih dahulu dibuat oleh pelukis asal Ternate yang disapa Iki, dan salah seorang pelukis yang memilih namanya tidak disebutkan. Sketsa kemudian disempurnakan oleh Soemantri Rangga Winata, pelukis asal Darmaraja, Sumedang, Jawa Barat.
Peluncuran sketsa tersebut pun dibubuhi tanda tangan oleh beberapa tokoh nasional, seperti Akbar Tanjung dan (alm) Abdul Gafur, Perwakilan Keluarga Kesultanan Ternate Hidayat Mudaffar Sjah, Kapita Krois Kesultanan Ternate, Wali Kota Ternate Burhan Abdurrahman, serta Tim Penyusun Naskah Akademik Kepahlawanan Baabullah, sebagai bentuk dukungan.
Pasca dari dua kali seminar hingga upaya pengumpulan data sebagai bentuk persyaratan administrasi, kemudian diusulkan ke Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) untuk kembali diteliti, dikaji, dan dibahas. Dari situ TP2GP mengajukan ke Menteri Sosial kepada Presiden RI, Joko Widodo melalui Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
Dari Sketsa Wajah hingga “Koin untuk Baabullah”
Peluncuran sketsa wajah Sultan Baabullah Datu Syah sempat memantik perdebatan publik. Yang paling menonjol datang dari Kepala Bidang Sejarah dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Kota Ternate, Rinto Taib.
Pernyataan Rinto terlampir, baik lewat akun media sosial fasebooknya maupun media massa di Kota Ternate. Penyoalan itu direspon pengurus KARAMAT dan anggota Tim Perumus Naskah Akademik.
Dengan sikap terbuka, KARAMAT pun menggelar dialog publik yang difasilitasi PT. Jalamalut Media Grup di Cafe Jarot 2, Kompleks BTN, Kota Ternate Tengah, pada Minggu 15 Desember 2019 sekira pukul 20.00 WIT hingga selesai.
Bertemakan “Baabullah Dalam Sketsa”, hadir dua pemateri dari Tim Penulis Naskah Akademik, Irfan Ahmad dan Sukarno M. Adam, serta Rinto Taib selaku orang yang mempersoalkan. Bertindak sebagai moderator, Sekretaris Jenderal KARAMAT Firjal Usdek.
Dari dialog itu disimpulkan, bahwa secara metodologi sketsa tersebut sudah dapat dipertanggungjawabkan secara logis berdasarkan bukti empiris. Tim pengusung bersandar pada keterangan Francis Drake – pria berkebangsaan Inggris – yang kagum dengan sosok Baabullah setelah bertemu di atas kapal Golden Hind yang ditumpangi Drake di Ternate pada 5 – 9 November 1579. Sedangkan dari aspek etika, hampir sudah terpenuhi ketika pihak keluarga dari Kesultanan Ternate menerima sketsa wajah tersebut.
Ribut-ribut soal sketsa wajah, tim perumus kemudian diperhadapkan dengan persoalan anggaran. Masalah klasik ini mencuat saat Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Ternate, menolak seluruh usulan kegiatan di daerah ini mendahului APBD – Perubahan, yang diajukan Pemerintah Kota Ternate.
Saat itu, Wakil Ketua Banggar DPRD Kota Ternate, M. Iqbal Ruray, mengatakan selain kondisi keuangan yang tidak memungkinkan, ada beberapa kegiatan yang diusulkan bersifat tidak urgen.
Meski demikian, Iqbal menyebut usulan tersebut dapat ditampung dalam APBD-Perubahan, yang tersisa beberapa bulan lagi akan dibahas. Itu pun jika anggaran memungkinan untuk mengakomodir berbagai kegiatan tersebut.
Hal ini diakui Sekretaris TP2GD Kota Ternate, Muhdar Din. Menurut dia, banyak usulan yang dipending. Termasuk anggaran seminar nasional pengusulan gelar Kepahlawanan Sultan Baabullah.
Ini pun memicu gerakan “koin untuk Baabullah” yang diinisiasi beberapa elemen organisasi. Yang paling menonjol adalah Generasi Muda Nuku dan PT. Jalamalut Media Grup.
Kepahlawanan untuk Generasi yang Amnesia
Keabsahan dari penobatan Sultan Baabullah Datu Syah dari Ternate, Maluku Utara, ditandai dengan lahirnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 117/TK/Tahun 2020, tertanggal 6 November 2020 di Jakarta.
Sultan Baabullah menjadi urutan pertama dari enam tokoh yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada momentum Hari Pahlawan, Selasa 10 November 2020 kemarin.
Kebanggaan ini, dilengkapi dengan pernyataan Prof. Susanto Zuhdi, dalam sebuah diskusi bersama, bahwa “jika negara memberikan gelar Kepahlawanan pada Baabullah, maka Kepahlawanan Baabullah lebih besar dan mengalahkan gelar pahlawan yang diberikan negara selama ini.”
“Sultan Baabullah hebat,” timpal Anhar Gonggong, Sejarawan ternama asal Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan di sela-sela acara penobatan gelar Kepahlawanan di Istana Negara, Jakarta.
Artinya, keberhasilan Sultan Baabullah mengusir Portugis dari tanah Maluku merupakan bukti, bahwa kekuatan lokal memiliki kemampuan untuk mengatasi dominasi kekuatan asing.
Dan salah satu kunci utama keberhasilan Baabullah mengakhiri keberadaan Portugis di Ternate, adalah mampu menyatukan seluruh kekuatan lokal di Maluku yang dibangun dengan strategi dan taktik kemaritiman yang kuat.
Melalui kekuatan tersebut, dunia Maluku yang di awal Abad – 16 terpecah karena persaingan memperebutkan hegemoni kekuasaan antara Ternate dan Tidore, dapat disatukan oleh Baabullah dengan isu Kolonialisme Portugis di tanah Maluku.
Atas dasar itulah Baabullah bangkit menjadi sosok awal peletak dasar Kebangsaan Indonesia lewat serangkaian perjuangannya. Terlebih dalam pengusiran Portugis dilakukan dengan cara-cara yang toleran. Menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia menjadi sebuah nilai yang dimiliki Baabullah.
Ini dapat dijelaskan, bahwa cita-cita awal Kebangsaan Indonesia sudah jauh lebih dulu dimulai lewat perjuangan Baabullah, sebagai cikal-bakal terbentuknya Nusantara saat ini. Dengan demikian, maka cerita perjuangan tak harus berakhir menjadi selembar catatan di buku-buku sejarah.
Mungkin kita bisa memaklumi, bahwa dalam sejarah tidak ada pahlawan. Tapi ada faktor yang berperan terhadap sesuatu atas dasar tertentu, demi sebuah kepentingan yang bersifat menyeluruh.
Maka dari sinilah muncul nilai-nilai perjuangan itu. Berkata Prof Susanto Zuhdi, pahlawan itu kebutuhan. “Artinya, kita perlu ada pahlawan. Kita butuh pahlawan,” ucap sang Prof.
Sebab, pahlawan adalah personifikasi nilai yang mewujudnyatakan ke dalam sikap, perilaku, tindakan, dan perjuangan. Sedangkan status kepahlawanan sangat bergantung dengan nilai.
Jika perjuangan bersifat kesatuan, maka arahnya bertujuan menyatukan bangsa. Karena pada hakikatnya, pahlawan adalah orang yang berani mengambil risiko. Termasuk mengorbankan diri sendiri. Dan Baabullah telah mengawali itu.
Indonesia yang terlahir sebagai sebuah bangsa, di dalamnya terdiri dari beragam suku. Sebab menjadi sebuah bangsa karena ada proses sejarah. Salah satunya perjuangan. Sedangkan faktor utamanya karena ada “penjajahan”.
Mengakhiri catatan ini, dapat disimpulkan bahwa Kepahlawanan tidak selalu objektif. Sebab gelar merupakan subjektifitas sebuah bangsa. Karena ada nilai keteladanan di dalamnya. Lalu apa, siapa, dan bagaimana penjajah itu ?. Semua sudah dijelaskan utuh dalam pembukaan Undang –Undang Dasar 1945.(*)