TERNATE– Sampai kini usulan pemberhentian petugas penagih retribusi di Dinas Perhubungan berjumlah 17 orang, belum diterima Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Ternate.
Kepala BKPSDM Kota Ternate Samin Marsaoly mengatakan, yang paling tahu keberadaan dan kinerja dari setiap PTT itu adalah pimpinan OPD.
“Kalau PTT nya tidak lagi aktif di usulkan (berhentikan), sehingga kita akan cari yang produktif,” katanya Kamis (17/3/2022) kemarin.
Samin menyebutkan, hal ini dalam rangka peningkatan kualitas dan efisiensi kerja, maka pimpinan OPD di minta untuk mengusulkan.
“Tapi tidak bisa usulkan tambah PTT, karena anggaran kita sudah tidak ada lagi, bahkan sekarang ini BKPSDM lagi memikirkan langkah pemerintah pada 2023 kalau PTT ini di hilangkan,” sebutnya.
Untuk itu kata dia, apa yang di sampaikan oleh Kepala Dinas Perhubungan Faruk Albaar tersebut segera di usulkan.
“Jangan hanya berkoar-koar, usul saja ke kita agar supaya kita tahu dengan dasar dan pertimbangan tertentu sesuai dengan fakta dan realitas,” ungkapnya.
Dikatakan Samin, dari evaluasi yang dilakukan mestinya penagih retribusi ini tidak harus di keluarkan, namun dia menyarankan untuk di roling.
“Kewenangan untuk memberhentikan bukan ada di pimpinan OPD tapi di Wali Kota, baik merekrut atau memberhentikan. Jadi silahkan di usulkan langsung kita proses,” jelasnya.
Samin menegaskan, ada tiga alasan untuk pemberhentian PTT yakni sesuai dengan perjanjian kontrak 5 hari berturut-turut tidak laksanakan tugas dan/atau 10 hari akumulasi dari satu bulan, kemudian yang bersangkutan tersangkut masalah asusila atau masalah hukum, kemudian kinerja.
“Kalau kinerja menurun dan dianggap layak dan pantas oleh pimpinan OPD silahkan di usulkan,” tegasnya.
Perlu diketahu, pemberhentian 17 orang petugas penagih retribusi dari PTT dilakukan Dishub Ternate berdasarkan hasil evaluasi pada bulan Februari 2022. Langkah ini diambil terhadap 17 orang penagih yang melakukan penagihan pada 17 titik (lokasi) di Kota Ternate yakni Bastiong, pos malam, pos IV, amanah, boulevard, Gloria, selecta, setia farma, barito, pos III, pos higienis, pelabuhan semut, percontohan, kemudian pelabuhan kota baru, boulevard, moti dan dufa-dufa.
Karena dari hasil evaluasi ditemukan petugas penagih tersebut hanya menghabiskan 2 buku dalam sebulan dari target 30 buku yang dibebankan ke mereka, padahal kawasan yang ditagih kendaraannya cukup ramai, atas dasar itu mereka ini di berhentikan karena di duga ada kebocoran.(cim)

