Oleh: Dr. Abdurrahman Kader, M.Si (Dosen FISIP UMMU)
Tahun Baru Hijriah selalu hadir sebagai momentum refleksi bagi umat Islam.Peristiwa hijrah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi peradaban.Artinya, hijrah adalah simbol perubahan menuju keadaan yang lebih baik, lebih adil, lebih bermartabat, dan lebih berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.Karena itu, pergantian tahun dalam kalender Hijriah seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan seremonial keagamaan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mengevaluasi arah perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam konteks pembangunan nasional maupun pembangunan daerah, spirit hijrah menjadi sangat relevan. Selama beberapa dekade, keberhasilan pembangunan sering kali diukur melalui angka-angka statistik seperti: pertumbuhan ekonomi, peningkatan investasi, pembangunan infrastruktur, penurunan tingkat kemiskinan, dan berbagai indikator kuantitatif lainnya. Angka-angka tersebut memang penting karena memberikan gambaran objektif mengenai capaian pembangunan.Namun, pembangunan yang hanya berorientasi pada angka berpotensi mengabaikan aspek-aspek fundamental yang justru menentukan kualitas kehidupan masyarakat, yaitu nilai, etika, keadilan, dan kemanusiaan.Artinya, Tahun Baru Hijriah mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak boleh sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi juga harus menghadirkan kebermaknaan bagi kehidupan manusia.Inilah saatnya menghijrahkan pembangunan dari angka ke nilai.
Secara teoritik, kita tidak dapat dipungkiri bahwa paradigma pembangunan modern sangat dipengaruhi oleh pendekatan ekonomi.Kemajuan suatu Negara dan daerah sering kali diukur dari besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), tingkat investasi, jumlah proyek infrastruktur, atau persentase pertumbuhan ekonomi.Oleh kerena itu, Pemerintah pusat dan daerah berlomba-lomba menunjukkan keberhasilan melalui capaian statistik yang dapat dipresentasikan dalam laporan kinerja.
Kita mengauki bahwa pendekatan semacam ini memiliki manfaat, karena memudahkan pengukuran dan evaluasi.Namun, ketika angka dijadikan tujuan utama, pembangunan berisiko kehilangan ruhnya.Kita sering menyaksikan daerah yang mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi masih menghadapi ketimpangan sosial yang lebar.Ada wilayah yang kaya sumber daya alam, namun masyarakat lokalnya masih hidup dalam keterbatasan.Ada pula daerah yang dipenuhi proyek pembangunan fisik, tetapi kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial masyarakat belum mengalami perubahan yang signifikan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan kemajuan sosial.Pembangunan yang berhasil bukan hanya yang mampu menghasilkan angka-angka mengesankan dalam laporan statistik, tetapi juga yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.Dalam perspektif ini, angka seharusnya menjadi alat untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri.Ketika pembangunan hanya berfokus pada angka, maka manusia berpotensi diperlakukan sebagai objek pembangunan.Sebaliknya, ketika pembangunan berorientasi pada nilai, manusia ditempatkan sebagai subjek sekaligus tujuan utama pembangunan.

