OBI – Abrasi perlahan mengikis garis pantai Desa Soligi di Pulau Obi. Untuk membantu menjaga kawasan pesisir tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Insan Harita, Pemerintah Desa Soligi, Komunitas Tongke, serta para pelajar menanam 380 bibit mangrove bertepatan dengan peringatan Hari Mangrove Sedunia.
Bagi masyarakat Soligi, mangrove bukan sekadar deretan pohon di tepi pantai. Vegetasi ini menjadi benteng alami yang membantu menahan abrasi, menjaga habitat berbagai biota pesisir, sekaligus menopang kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekosistem laut.
Desa Soligi memiliki kawasan mangrove seluas sekitar 23 hektare. Sebagian kawasan mengalami degradasi akibat pemanfaatan akar mangrove sebagai kayu bakar selama bertahun-tahun. Karena itu, rehabilitasi mangrove menjadi salah satu langkah penting untuk memulihkan fungsi ekologis pesisir sekaligus memperkuat ketahanan kawasan dari ancaman abrasi.
Program rehabilitasi ini berawal dari riset yang dilakukan tim KKN UGM sebelum diterjunkan ke Pulau Obi. Hasil kajian menunjukkan Desa Soligi membutuhkan langkah adaptif untuk menjaga kawasan pesisir melalui rehabilitasi mangrove.
Mahasiswi Fakultas Kehutanan UGM, Sofa Nur Aziza, mengatakan hasil riset tersebut menjadi dasar timnya memilih penanaman mangrove sebagai program utama di Desa Soligi.
