Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara Nukman menyampaikan Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara akan melakukan peninjauan kembali status bahasa Tidore sebagai dialek bahasa Ternate serta akan merespon serius terkait problematika pemetaan bahasa daerah dan penetapan bahasa Tidore.
“Perlu adanya data perbandingan agar kita bisa mengusulkan kembali pemetaan bahasa daerah, Balai Bahasa Maluku Utara akan menggunakan referensi seperti James Maker dan Ibu Wiliam sebagai dasar pembanding dalam mengajukan kembali bahasa Tidore sebagai bahasa daerah tersendiri”ujarnya.
Nukman juga menduga bahwa sampel yang diambil dalam penetapan status bahasa Tidore sebagai dialek Ternate mungkin diambil pada penutur yang menggunakan dialek Ternate. Untuk pengakuan bahasa Tidore, perlu dilakukan survei titik penutur dan kosakata yang berbeda lebih dari 800 kosa kata.
“Bahasa daerah adalah identitas atau jati diri, jadi harus dipertegas bahwa bahasa Tidore adalah bahasa daerah tersendiri dan bukan dialek dari bahasa Ternate,” tegas Nukman. Tahun ini, Balai Bahasa Maluku Utara akan melakukan pemutakhiran bahasa daerah dan penelusuran penelitian terkait bahasa Tidore.
Turut hadir para Asisten Sekda, Staf Ahli Walikota, Kepala Badan Bapperida,Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Badan BKPSDM, Plt Kepala Dinas PMD, Plt Kepala Dinas Perpustakaan , Kepala Bagian Hukum dan Kepala Bagian Tata Pemerintahan. (hms)
