Harita Nickel dan Masyarakat Kawasi Perkuat Kolaborasi Jaga Warisan Budaya Pulau Obi

Lokasi pertama yang dikunjungi peserta adalah Danau Karo, danau alami yang sejak lama dikenal masyarakat sebagai sumber kehidupan dan air bersih bagi desa-desa di lingkar Pulau Obi. Danau tersebut juga memiliki nilai budaya dan spiritual yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Desa Kawasi.

Di lokasi tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai pemanfaatan Danau Karo sebagai salah satu sumber air untuk operasional industri, termasuk upaya pemantauan kualitas air secara berkala serta program penghijauan dan revegetasi yang dilakukan perusahaan untuk membantu menjaga kelestarian lingkungan di sekitar kawasan danau.

Beberapa peserta juga tampak berbagi cerita mengenai hubungan masyarakat dengan kawasan Danau Karo, termasuk kebun-kebun sagu milik masyarakat yang berada di sekitar area danau. Dialog berlangsung terbuka antara masyarakat, tokoh adat, pemerintah desa, dan perusahaan mengenai sejarah kawasan serta perubahan yang terjadi di Pulau Obi dari masa ke masa.

Setelah dari Danau Karo, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Benteng De Brill, peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada 1674 di Pulau Obi. Benteng yang dahulu digunakan untuk menjaga monopoli perdagangan rempah-rempah ini sempat lama tertutup vegetasi sebelum kembali ditemukan dan dibersihkan pada awal operasional Harita Nickel di Obi. Saat ini, situs tersebut telah tercatat sebagai cagar budaya di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XXI Maluku Utara bersama Harita Nickel.

Tetua adat masyarakat Desa Kawasi, Otniel Datang, mengatakan, masyarakat setempat juga mengenal Danau Karo dengan beberapa sebutan lokal, seperti Talaga Diki-Diki maupun Talaga Ma Hilo dalam bahasa Tobelo, yang dalam bahasa Indonesia berarti Danau Damar.