Ini Alasan Dana Reklamasi WFC II Naik Hampir Empat Kali Lipat

“Iya, WFC zona II ini dia lebih besar, yaitu Rp 21 Miliar. Itu semuanya untuk timbunan,” akui M Jain saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (20/07/2022). Namun, Jain berdalih, besarnya nilai reklamasi WFC zona II karena dipengaruhi naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM), luas wilayah, dan kedalaman laut.

Harga BBM misalnya, kata dia, Pertamax yang awalnya Rp 9.000 naik Rp 12.000, lalu Solar dulunya Rp 9.000 naik Rp 13.000. Naiknya harga BBM ini, tentunya diikuti juga naiknya harga bahan industri.

“Jadi kalau solar naik otomatis aspal juga naik, dan semuanya pasti berpengaruh. Ini kan kita menggunakan analisis Standar Nasional Indonesia (SNI), jadi kita tidak bisa lari dari analisa itu, karena analisa itu sudah ditentukan oleh pusat, jadi harus berdasarkan volume di lapangan dan harga satuan yang ada di Morotai. Apalagi perusahan kan dia tidak bisa pakai bahan bakar subsidi, makanya kita pakai standar non subsidi,” jelasnya.

Selain itu, luas areal yang direklamasi juga menjadi alasan naiknya nilai proyek.  “Zona II ini dia lebih luas dari zona I. Kalau zona I dia lurus, luasnya hampir sama (panjang 300 meter luas kurang lebih 70 meter), tapi kalau zona II panjang 350 meter, tapi di dalamnya luas, karena sedikit melengkung,” katanya.

Tak hanya itu, kondisi laut di areal reklamasi zona II juga sedikit lebih dalam dibanding zona I. Ini tentunya membutuhkan jumlah material yang lebih banyak.

“Zona I kedalamannya hampir sama. Tapi zona II, kedalamannya tidak sama, ada yang dangkal ada yang dalam, jadi kebutuhan materialnya lebih besar,” timpal Jain.

Disinggung mengenai dokumen analisis dampak lingkungan (AMDAL) terkait proyek reklamasi pantai tersebut, menurut M Jain, itu adalah tanggungjawab pihak Kementerian PUPR.

“Untuk pembangunannya kan Kementrian butuh AMDAL, kan bangunannya nanti di bangun oleh Kementerian PUPR, jadi nanti di proses oleh Kementerian PUPR karena itu wilayahnya mereka. Kita daerah hanya UKL/UPL,” tuntasnya.

Sekedar diketahui, WFC adalah salah satu infrastruktur pendukung Morotai sebagai Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN). Jadi usai proses penimbunan, Kementerian PUPR bakal membangun berbagai sarana olahraga seperti futsal, basket, voli pantai, fitnes outdoor. Fasilitas umum lainnya ada Landscape penataan taman dan plaza, anjungan, taman bermain anak dan pagar pembatas kawasan.  Ada juga bangunan penunjang berupa plaza, kios kuliner, cafe shop dan toilet umum. (fay)