“Intinya, mereka (pengidap HIV) tetap dapat ARV atau konsumsi obat ARV seumur hidup,” ujar Wirda. Kini, sebagian besar anak-anak penderita HIV itu berstatus yatim piatu, karena kedua orang tua mereka telah meninggal dunia beberapa tahun lalu.
Selain itu, Wirda sempat menceritakan, pada tahun 2008 pernah salah satu dari 10 anak yang mengidap HIV di Kota Ternate, ditolak oleh salah satu sekolah di Ternate.
Dia mengisahkan, anak tersebut secara psikologis merasa dikucilkan, saking kecewa atas penolakan itu, sang anak sempat memutuskan tidak lagi bersekolah.
Bahkan alasan penolakan sekolah tidak disampaikan ke sang anak, karena saat itu Dinas Kesehatan belum mendapat izin dari pihak keluarga, untuk tidak menyampaikan ke anak itu positif HIV.
Walaupun saat itu harus disampaikan, di khawatir anak tersebut mengalami depresi berat yang berdampak pada mentalnya.
“Kami takut anaknya jadi stres, dan kesehariannya bisa terganggu,” tutur Wirda mengisahkan. Waktu terus berlalu dan lambat laun anak itu baru menyadari menderita HIV, setelah penasaran mengkonsumsi obat ARV secara terus-menerus.
