Meriam tersebut dapat ditemukan pada kedalaman 37-42 meter, selain meriam juga ditemukan fragmen guci gerabah dari china masa Dinasti Ming abad ke-16 M, kemungkinan gerabah diproduksi di Thailand.
“Terdapat kasus pengangkatan ilegal tahun 1990-an dimana para penjarah berusaha mengangkat meriam tersebut ke darat namun tidak berhasil. Pada kasus penjarahan tahun 1990-an, banyak BMKT yang diangkat dari situs Tongowai seperti gerabah utuh dan saat ini hanya diletakkan begitu saja di Wisma Halmahera Tengah, Ito Gapura. Di halaman Wisma juga berdiri 1 meriam portugis buatan Macao, Manuel Tavares Boccaro tahun 1627 serta mempunyai ukiran bola dunia di sebelah kanan, dan salib Kristus di sebelah kiri,” jelasnya.
Potensi situs BMKT yang dimiliki perairan Tidore, kata Guntur, tidak kalah dengan daerah-daerah lain di Indonesia untuk dikembangkan sebagai titik wisata selam yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan pendapatan daerah.
Sejalan dengan arahan yang disampaikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, M.M., bahwa momentum Hari Nusantara mengingatkan, bahwa harus menjaga keseimbangan aktifitas ekologi dan ekonomi untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Salah satunya dengan memajukan potensi arkeologi maritime yang ada di perairan Tidore.
Penyebarluasan informasi hasil riset yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Badan Riset Sumber Daya Manusia Kelautan Perikanan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat maupun pemangku kepentingan di level pusat maupun daerah, para stakeholder terkait, termasuk pelaku industri pariwisata bahari tentang pentingnya menjaga, melestarikan, mengelola, dan mengembangkan warisan budaya bawah air atau situs BMKT yang tidak ternilai harganya di Tidore Kepulauan.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Kelautan, Dr. I Nyoman Radiarta, S.Pi. M.Sc. mengatakan, pengembangan wisata kapal karam yang sustainable dan bertanggung jawab memerlukan riset sebagai dasar ilmiah untuk bahan pijakan para decision maker di pemerintahan pusat maupun daerah.
Hal tersebut sejalan dengan pesan yang di sampaikan oleh Plt Kepala Badan Riset Sumber Daya Manusis-Kelautan Perikanan, Dr Kusdiantoro, S.Pi., M.Sc., yang menyampaikan, kegiatan riset hakikatnya dapat menjawab issue-issue startegis sehingga kegiatan riset dapat mendukung 3 program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Oleh karena itu, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan melalui Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir yang mempunyai wilayah kerja di seluruh Indonesia di bawah pembinaan Pusat Riset Kelautan, melaksanakan kegiatan riset Kajian Potensi Arkeologi Maritim Situs Kapal Tenggelam untuk Pengelolaan Wisata Bahari Berkelanjutan dan Penguatan Narasi Sejarah dan Budaya Maritim di Tidore pada tahun 2019 dan 2021.
“Riset arkeologi maritim di Tidore dilakukan untuk menindaklanjuti permohonan dari Walikota Tidore, Capt. H. Ali Ibrahim pada tahun 2018 tentang dukungan riset bagi pengungkapan sejarah maritim terkait ekspedisi Magellan-El Cano untuk mendukung peringatan Sail Tidore dan peringatan 500 tahun penjelajahan mengelilingi bumi yang dilakukan oleh 5 armada kapal Spanyol,” tuturnya.
Berdasarkan surat permohonan tersebut, Nia Naelul Hasanah Ridwan selaku Kepala Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP) menindak lanjuti dengan merancang segala bentuk kegiatan riset yang sudah dimulai sejak tahun 2019 hingga 2021.
