“Penilaian Teknis Dokumen, dari kriteria aspek pencapaian pembangunan, memiliki 7 indikator yaitu pertumbuhan ekonomi dan inklusivitas pembangunan, tingkat pengangguran terbuka, kemiskinan, IPM, ketimpangan, pelayanan publik dan pengelolaan keuangan, serta transparansi dan akuntabilitas, dan jika 7 indikator ini capaiannya baik, maka nilainya 40 persen,” jelasnya
Dari sini, lanjut dia, dapat diketahui penyebab mengapa Pemda Halbar hanya bisa bertengger terbaik dua. Ia menduga mungkin karena angka pertumbuhan ekonomi menurun, atau bisa saja karena angka kemiskinan terus meningkat, IPM rendah dan lain sebagainya, sehingga target 40 persen tidak terpenuhi.
“Soal aspek kualitas dokumen perencanaan yang nilainya 40 persen pula, yang terbagi pada sinergi dan keterkaitan 14,5 persen konsisten 11 persen, serta kelengkapan dan kedalaman 14,5 persen. Dan terakhir dalam penilaian dokumen adalah aspek inovasi yang nilainya 20 persen,” jelas Mantan anggota DPRD itu.
Selain itu, konsistensi perencanaan, apakah konsistensi atau tidak antara prioritas pembangunan dalam RKPD dengan pagu anggaran dan terwujud atau tidak konsistensi antara prioritas pembangunan dalam RKPD dengan program prioritas daerah, serta lainnya.
“Dari sini juga kita sudah milki gambaran bahwa sulitnya Pemda Halbar mempertahankan terbaik 1 karena pasti ada masalah juga dalam hal konsistensi perencanaan Pemda tersebut,” tandasnya.
