Pertama adalah lokasi yang strategis berada di dekat smelter terbesar di Provinsi Maluku Utara (PT. IWIP) yang terletak di Lelilef. “Dimana PT IWIP berpotensi menjadi klien utama di area Maluku Utara seperti yang telah dilakukan di Morowali (PT. IMIP),” ucapnya.
Site Weda lanjut Suprapto berada di lokasi strategis yang cukup terjangkau dengan beberapa pelanggan eksisting di sektor mineral, yang mayoritas berada di Halmahera Tengah (Lelilef dan Gebe), Halmahera Timur (Subaim, Buli, dan Maba), serta Halmahera Selatan (Obi).
Dimana fasilitas dari Site Weda saat ini dapat melayani kegiatan Inspeksi dan Pengujian Mineral (Bijih Nikel dan Produk Smelter Turunan Nikel) dan Batubara. Dan layanan yang ditawarkan Site Weda saat ini adalah jasa inspeksi dan pengujian bahan tambang dari portofolio mineral jasa inspeksi dan pengujian dari portofolio batubara.
Tak itu saja Suprapto mengatakan, layanan di Site Weda mencakup wilayah provinsi Maluku Utara pada umumnya. Lebih khusus mencakup di daerah-daerah pertambangan dan industri pertambangan seperti Lelilef, Weda, Sagea, dan Gebe.
“Selanjutnya di Kabupaten Halmahera Timur seperti Buli, Subaim, dan Maba. Serta di Kabupaten Halmahera Selatan seperti Obi,” tambahnya.
“Tidak menutup kemungkinan untuk Site Weda dapat melayani potensi pelanggan di area pertambangan dan industri pertambangan lain di Provinsi Maluku Utara maupun Provinsi lain yang berada di dekatnya seperti Pulau GAG,” akunya.
Untuk itu target 2023 untuk Site Weda Laboratorium Site Weda diproyeksikan dapat meningkatkan layanan yang selama ini sudah diberikan kepada pelanggan, meliputi peningkatan waktu pelayanan (TAT) yang selama ini masih bergantung pada Laboratorium Sucofindo di Makassar dan Kendari.
“Selanjutnya Site Weda juga diproyeksikan dapat menekan biaya operasi dengan efisiensi ekspedisi pengiriman sampel dan biaya mob demob petugas lapangan,” tandasnya lagi.
Bahkan Site Weda dapat menjadi daya tarik pelanggan baik eksisting maupun pelanggan baru untuk menggunakan jasa jasa Sucofindo secara lebih luas.
