Meletakkan Adat Dalam Atoran dan Adab

Sementara untum Tradisi Ta Ipa, dilaksanakan tepat pada malam 12 Rabiul Awal. Ta Ipa Sendiri, oleh Weda disebut sebagai Cogo Ipa (Bukan Dia), sedangkan Maba Menyebutkannya dengan sebutan Ipa Ce / Mef (Bukan Dia).

Hal tersebut didasari atas sejarah awalnya. Yakni ketika tiba pada malam puncak perayaan maulid nabi, ketiganya memerintahkan kepada para rombongan mereka saat itu untuk menggunakan dan memeragakan topeng tersebut yang diiringi dengan tabuhan rebana serta lantunan dzikir, pada saat tiba pelepasan, orang yang kemudian menggunakan topeng topeng tersebut, tak lagi dapat dikenali lagi, maka munculnya tanda tanya pada ketiganya, dengan saling menyahutkan ucapan, bukan dia dalam dialeg dan bahasa mereka masing – masing.

Dari Ta Ipa, Cogo Ipa, dan Ipa Ce, setelah wilayah Fagogoru diminta untuk bersama – sama kesultanan Tidore dalam menumpas misi zionisme, dimasa Sultan Jamaluddin, kemudian disatukan penamaan tersebut menjadi nama Coka Iba, yang hingga saat ini lebih dikenal luas dikalangan masyarakat Maluku Utara.

Oleh masyarakat Poton (Patani) Ta Ipa memiliki 4 Jenis dengan jumlah yang telah ditentukan, yakni 1. Ta Ipa Yay (Coka Iba Kayu) sebanyak 7 orang, 2. Ta Ipa Gof (Coka Iba Bambu) 4 pasangan, 3. Ta Ipa Iripala (Coka Iba Pelapah Pohon Sagu) 44 pasangan dan 4. Ta Ipa Nok (Coka Iba Tanah) 2 orang.

Jika ditotalkan, berjumlah 99 yang disesuaikan dengan jumlah Asmaul Husnah. Sementra untuk 4 jenis tersebut membawahi 4 anasir dari proses penciptaan manusia. Yakni Ta Ipa Yay pada Anasir Api, Ta Ipa Gof unsur Angin, Ta Ipa Iripala membawahi unsur Air, Dan Ta Ipa Nok membawahi unsur Tanah.

Empat jenis Ta Ipa tersebut, pun dalam cara berpakaiannya, juga memiliki ciri khas tersendiri, sesuai dengan pakaian adat dari negri Poton.

Sementara untuk atas dari kepala Ta Ipa sendiri, hanya untuk Ta Ipa Iripala, dengan menampilkan berbagai bentuk isi bumi.  Ta Ipa Poton, pun dalam mengawali atraksinya, biasanya ketika lantunan dzikir yang dilangsungkan oleh masyarakat di masjid telah dimulai (usai ba’da Isya), maka disaat itu pula jenis Ta Ipa dengan berpakaian putih – putih (Lalo – lalo) kemudian dimunculkan untuk ber atraksi dari masjid Desa Wailegi Hingga ke Mesjid Desa Kipai, sebagai penanda bahwa cahaya atau sosok Rahmatan Lil Alamin tak lama lagi akan segera ada.