Setelah pertengahan dzikir yang disebut oleh masyarakat Poton sebagai waktu Asrakal atau waktu beristirahat (dikisaran jam 02.00 Wit) untuk sekedar menyantap sajian ala kadar yang telah disediakan oleh mama – mama Poton, lalu dilanjutkan kembali dzikir dan bacaan riwayat nabi, maka disaat itu pula, 4 jenis Ta Ipa, mulai menampakkan diri mereka hingga tiba dimana Tetuah Adat (Wlon/Kepala Pemerintahan dimasa itu) mengatur, lalu memilih 1 diantara jenis Ta Ipa Yay (Coka Iba Yay) sebagai kepala dari 4 jenis Coka Iba tersebut untuk dilepas selama 3 hari (apabila Fanten tidak dilaksanakan) untuk menegur masyarakat, di siang hari, apabila mereka tidak melaksanakan kewajiban agama.
Begitupun dengan Ta IPA Iripala (Coka Iba Iripala) pun ditunjuk satu pasangan yang dianggap lengkap dalam cara berpakaian (kimon putih, juba, salaka, Buka Re Sirap, Piypoy), serta memiliki jenis atas kepala yang baik, juga dipilih untuk menempati urutan pertama pada barisan 44 pasangan sebagai kepala dari jenis Ta Ipa tersebut.
Ketika semuanya telah diatur secara rapi dan keterpilihan jenis Ta Ipa yang menjadi kepala dari 4 Ta IPA, Tetuah Adat lalu mengambil sebilah rotan yang sedari awal telah ditaruh di atas meja bacaan dzikir yang dimulai dari ba’da Isya Hingga usai Subuh, untuk selanjutnya digunakan memukul Ta IPA Yay yang telah dipilih sebanyak 3 kali, sembari membacakan Salawat atas nabi, yang disertai dengan doa agar negri terhindar dari segala marah bahaya.
Yakni Setan Soe Salale Na Langatli, fpolonmewna Langatli, setan Soe Salale Na lolosli, fpolonmewna lolosli, setan Soe Salale Na Olot Li, fpolonmewna olotni, setan Soe Salale Na ngolo Li, fpolonmewna ngololi, setan Soe Salale Na gyatalli, fpolonmewna gyatalli. Fimnyangasna Masyarik re Magharib.
Setlah dilepas, Ta Ipa kemudian beraktraksi berkeliling dari Desa Wailegi (Masjid Desa Wailegi) Hingga Ke Ujung Desa Kipai (Jere Pete/Makam Jere Ramdan) sebanyak 3 Kali Putaran, barulah dapat membubarkan diri ke masing – masing rumah.
