Oleh : Jainudi Ali, S.T. (Mantan Anggota KPU Kota Ternate)
Setiap pergantian kepemimpinan membawa harapan, tetapi juga menyisakan jejak sejarah yang harus dikelola dengan bijak. Tidore Kepulauan, dengan warisan maritim yang kaya, kini memasuki fase baru di bawah kepemimpinan Muhammad Sinen dan Ahmad Laiman untuk periode 2025-2030. Keduanya menggantikan Capt. H. Ali Ibrahim yang telah menahkodai kota ini selama dua periode sebelumnya. Transisi ini bukan sekadar pergantian nama dalam struktur pemerintahan, tetapi juga ujian keberlanjutan atas capaian yang telah dirintis serta mempersiapkan langkah-langkah strategis bagi masa depan.
Muhammad Sinen, yang selama dua periode menjabat sebagai wakil wali kota, sudah tidak asing lagi dengan dinamika pembangunan di Tidore. Selama masa kepemimpinan Capt. H. Ali Ibrahim, berbagai sektor infrastruktur mengalami kemajuan signifikan. Dermaga-dermaga yang dibangun telah menghubungkan berbagai pulau di Tidore Kepulauan. Peningkatan sektor transportasi menjadi pilar penting dalam memperkuat konektivitas, baik di tingkat lokal maupun antar-daerah. Tak hanya itu, sektor pendidikan dan kesehatan juga mendapatkan perhatian serius dengan peningkatan fasilitas pendidikan di berbagai tingkat dan penguatan pelayanan kesehatan di wilayah terpencil.
Namun, di balik segala pencapaian tersebut, sejarah pembangunan Tidore Kepulauan tak lepas dari serangkaian tantangan. Salah satu ujian terbesar yang akan dihadapi oleh kepemimpinan Muhammad Sinen dan Ahmad Laiman adalah bagaimana menjaga efisiensi dalam pengelolaan anggaran. Kebijakan efisiensi berskala besar yang diterapkan oleh Pemerintah Pusat tentu akan memberikan dampak signifikan, termasuk Kota Tidore Kepulauan. Ini adalah tahun-tahun dimana ujian berat harus dilewati. Karena itu, setiap langkah kebijakan yang diambil harus mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan daerah dan batasan anggaran yang ada.
Dalam menghadapi keterbatasan ini, kepemimpinan baru di Tidore Kepulauan harus mampu berinovasi. Diversifikasi sumber pendapatan daerah akan menjadi kunci. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lebih optimal harus dicapai dengan menggali potensi-potensi ekonomi yang ada, terutama di sektor maritim. Sebagai daerah kepulauan yang memiliki sumber daya alam kelautan yang melimpah, potensi ekonomi maritim di Tidore sangat besar, mulai dari sektor perikanan, pelayaran, hingga pariwisata bahari. Peningkatan potensi ini tidak hanya dapat memperkuat ekonomi daerah, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
Selain sektor maritim, sektor pariwisata juga menjadi salah satu andalan daerah ini. Tidore, dengan kekayaan budaya dan sejarahnya, memiliki daya tarik yang sangat potensial untuk dikembangkan. Salah satu contohnya adalah peninggalan sejarah Kerajaan Tidore, yang merupakan bagian integral dari kekayaan budaya Indonesia. Mengoptimalkan sektor pariwisata akan membawa dampak yang luas bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Akan tetapi, untuk itu, dibutuhkan kebijakan yang dapat mendukung keberlanjutan sektor ini, dengan menjaga keseimbangan antara eksplorasi dan pelestarian.

