Kelurahan (kampung-kampung) yang masih menjaga adat dan budaya harus lebih dari sekadar saksi masa lalu, mereka harus menjadi ruang yang menghidupkan warisan itu dalam bentuk desa wisata. Di sinilah tantangan bagi pemimpin kota. Bagaimana membangun pariwisata yang berbasis budaya tanpa mengorbankan keaslian tradisi itu sendiri?
Membangun desa wisata tentu tidak cukup hanya dengan niat baik. Dibutuhkan strategi dan pendekatan yang tepat, termasuk merangkul investor yang dapat membantu membangun infrastruktur penunjang, seperti hotel dan penginapan. Namun, investasi harus diarahkan dengan bijak, bukan sekedar membangun beton dan kaca, tetapi menciptakan ruang yang tetap berpihak pada budaya lokal. Tidore, dengan kekayaan sejarah dan tradisinya, memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi destinasi wisata budaya yang memikat. Yang diperlukan kini adalah keseriusan, visi, dan kemauan untuk menjadikannya nyata.
Dan menurut kami, kunci utama untuk mewujudkan visi dan misi membangun Tidore ‘Jang Foloi’ terletak pada komposisi kabinet yang akan dibentuk pasca pelantikan nanti. Kabinet ini harusnya diisi oleh individu-individu yang tidak hanya memiliki kapasitas, tetapi juga gagasan, keberanian, dan kemampuan berpikir visioner. Tujuannya jelas. Kabinet ini harus mampu menerjemahkan serta menjalankan visi, misi, dan program Ayah Erik dan Abang Laiman dengan penuh tanggung jawab dan ketegasan.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukanlah sekadar soal siapa yang duduk di kursi pemerintahan. Lebih dari itu, kepemimpinan adalah tentang bagaimana menjaga kesinambungan pembangunan dan membawa perubahan menuju arah yang lebih baik. Setiap awal yang baru selalu menyisakan harapan, tetapi harapan saja tidak cukup. Harapan harus diiringi dengan kebijakan yang tepat, tindakan yang konkret, dan kepemimpinan yang visioner. Warga Kota Tidore Kepulauan kini menantikan langkah-langkah strategis yang akan diambil oleh pasangan Masih Aman dalam membawa daerah ini ke masa depan yang lebih gemilang.
