TERNATE – Kegiatan Moti 1322 Basuara yang digagas Komunitas Orang Moti (Oti) Production sukses digelar, dimana kegiatan yang dipusatkan di Sali Oti yang berlokasi di pasar Moti Kota, Kecamatan Moti pada Sabtu (13/8/2023) kemarin dipadati ratusan warga yang datang menghadiri kegiatan yang dikemas dengan diskusi bertajuk Konfederasi Kopitam yang mengangkat tema “Merajut Peradaban Moti” menghadirkan sejumlah tokoh Maluku Utara, yakni Sultan Tidore Husain Sjah, ulama Habib Zaky, anggota DPRD Malut Sofyan Daud, Sekretaris DPRD Provinsi Malut Abubakar Abdullah, akademisi Herman Oesman dan politisi A. Malik Ibrahim.
Sutan Tidore Husain Sjah mengapresiasi, kegiatan Moti 1322 Basuara sebagai sebuah gagasan dari Oti Production yang berkolaborasi dengan Makin Cakap Digital, KNPI, POSSI Malut yang terlaksana berkat partisipasi besar dari warga masyarakat Moti.

Sultan Tidore juga mengisahkan sejarah Moti, menurutnya Moti pernah menorehkan sejarah ketika Moloku Kie Raha bertikai untuk memperkokoh kekuasaannya yang berlangsung lama, namun karena ada kesadaran dari 4 kesultanan saat itu dan Moti membuka diri untuk 4 kesultanan datang membicarakan nasib sepanjang dunia ini.
“Sampai saat ini saya membayangkan kalau Moti Verbon atau persekutuan itu tidak dibangun, kita ini tidak lagi jadi orang Moti yang berada dibawah naungan NKRI, kalau 4 Sultan ini dengan kerelaan hati mau duduk bercerita, andai kata 4 kesultanan ini tidak punya kesadaran untuk membicarakan nasib maka mungkin saat ini kita sudah jadi warga Negara lain,” ungkapnya.

Dikatakannya, untuk merubah Moti, maka warga di Moti harus mampu menangkap spirit Moti Verbon saat itu, karena 4 sultan yang dengan segala keterbatasan saat ini sudah mampu menjelajahi pemikirannya jauh kedepan.
“Untuk itu mari di momentum kemerdekaan ini kita mengisi dengan hal baik dengan spirit dan semangat Moti Verbon dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkapnya, sembari mengingatkan Camat Moti dalam kepemimpinan jika kemudian ada perbedaan pendapat itu hal biasa.
Sekretaris DPRD Abubakar Abdullah menyampaikan, kegiatan Moti 1322 Basuara ini sebagai sebuah gagasan terbaik menyampaikan pesan terima kasih kepada 4 Sultan Moloku Kie Raha, karena dengan begini memberikan pesan bahwa sejarah memiliki spirit kuat sebagai bagian perjuangan untuk percepatan pembangunan daerah. “Padahal ini kegiatan ini di inisiasi oleh kelompok yang biasa saja, tapi menurut saya yang dilakukan ini luar biasa. Mari kita semua terus memberikan semangat kepada mereka,” pintanya.
Anggota DPRD Malut Sofyan Daud mengawali diskusi dengan mengisahkan sejarah kerajaan Goa yang diruntuhkan Portugis, yang kemudian Portugis pindah ke kerajaan Islam Malaka. Dari kisah itu Sofyan menegaskan, persatuan jadi kunci utama dan itu dibuktikan 4 kesultanan jauh sebelumnya sehingga mampu mengusir Portugis.

“Kegiatan seperti ini untuk merawat ingatan hal baik sambil berpikir ada banyak sumber daya yang bisa menggerakan kedepannya apa yang bisa dilakukan untu mengembangkan pulau Moti,” tandasnya.
Akademisi Herman Oesman menyebut, Moti Verbon yang telah bermencapai 701 bukan sebuah kebutulan, dimana sesuai dengan sebuah tulisan yang menyebut sebuah perubahan dan peradaban ditentukan oleh dua factor yaitu factor terwariskan dan factor sumber daya manusia. Dia bahkan mengutip pernyataan dari Arnol Toin dari 20 peradaban yang diteliti termasuk Moti disebut peradaban yang tertinggal karena dengan waktu 700 tahun lebih bukan hal yang mudah.

“Mengapa Moti bisa bertahan, kemudian Tidore dan Ternate juga sama karena ada spirit yang masih melanda kuat diantara Tidore, Ternate bahkan Moti. Kalau hanya spirit yang torang andalkan tanpa meningkatkan nilai pendidikan itu juga repot, jadi saya melihat khusus Moti ini harus ada sesuatu yang bisa mendorong kreatifitas masyarakat ini tumbuh,” tandasnya.
Politisi Malik Ibrahim menyebut, Moti dan kesultanan di Moloku Kieraha punya peradaban besar yang harus terus dirawat pada era digital saat ini, bahkan Malik mengutip artikel yang ditulis Prof. Matulada dari Unhas yang menyebutkan Moti dari bahasa Arab dengan sebutan Al Maut (pulau karang), Makian disebut AlMakih (tempat pengolahan) kemudian Tidore At Tidri (suka bercakap-cakap). Dan peradaban tentang Moti ini harus terus dijaga dengan penguatan akan kesadaran literasi tentang sejarah.
“Kita masuk di era dimana literasi itu ditingkatkan. Bahkan, kegiatan Moti Basuara ini juga, kita sudah diajak masuk pada satu dunia, dimana sesungguhnya memiliki literasi yang kuat. Tapi saat ini, kita mengalami satu pergeseran peradaban yang paling mendasar. Bahkan, tekanan-tekanan itu telah membuat kita masuk pada kesadaran baru, kemudian era ini juga akan menggiring kita masuk pada satu kebudayaan yang kelak kita sendiri tidak siap secara spiritual,” pungkasnya.

Kegaiatan Moti 1322 Basuara ini ditutup dengan konser Musik yang hasil kolaborasi Oti dengan Makin Cakap Digital, acara konser music ini menghadirkan sejumlah artis dan konter kreator yang mampu menghipnotis warga di Pulau Moti, yang dipusatkan dilapangan Tosehe.
Saihu Oti Wahyu Taha dan Koordinator kegiatan Budi Janglaha usai kegiatan menyampaikan, apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh warga, pemuda, tokoh masyarakat, tokoh agama, sesepuh, tim MCD, KNPI, POSSI Malut, dan aparat keamanan.

“Kepada teman-teman media kami juga menyampaikan apresiasi atas dukungannya yang telah menginformasikan kegiatan ini, kepada ibu-ibu di Moti syukur dofu-dofu sudah memberikan pelayanan terbaik kepada semua tamu yang datang,” ungkap Budi sapaan akrab Budi Janglaha.*
Editor : Hasim Ilyas
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)

