PDP Asal Halteng Pernah ke Jakarta

PDP yang tiba di Pelabuhan Weda

WEDA –  Tim Satgas Penanggulangan Bencana Non Alam dan Percepatan Penanganan Covid-19, mengeluarkan release data terbaru perkembangan kasus Corona Virus Disease, dimana  terdapat seorang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang telah dirujuk ke RSUD Chasan Boesoerie, Ternate.

Release yang disampaikan dalam konfrensi pers , Senin (6/4) sore pukul 17.30 WIT itu, dipimpin Sekda Halteng, Yanto M. Asri didampingi Juru Bicara Satgas Covid-19, Rijja Raja, Staf Ahli, M. Ridha, Ridwan Basalem, Kepala Kesbangpol, Sekertaris Bapelitbangda, Mufti Murhum, Sekwan, Rivani Abdul Rajak, Asisten III, Said M. Yastab dan Kepala BPBD. Jubir Satgas Covid-19, Rijja Rajana menyampaikan, situasi perkembangan pengendalian Covid-19 berdasarkan update data Sekretariat Satgas Gugus Tugas Kabupaten Halteng yang diperoleh dari Puskesmas dan Posko di wilayah kecamatan, diketahui jumlah Isolasi Mandiri 277 orang, jumlah OTG 0, jumlah ODP 11 orang, jumlah Pasien Dalam Pengawasan 1 orang. “Sedangkan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 masih nol,” ucap Rijja yang juga Kadis Kesehatan.

Rijja menambahkan, PDP tidak bisa langsung dipastikan terpapar virus Korona,  karena masih dibutuhkan observasi mendalam. Rijja menjelaskan, pada, Senin (6/4) telah menerima satu orang pasien dengan staus PDP dari Puskesmas Banemo, Kecamatan Patani Barat dan telah dilaksanakan sesuai SOP. Semua petugas dilengkapai APD (Alat Pelindung Diri). Menurut dia, warga dengan status PDP itu berinisial R, dengan riwayat perjalan dari tanggal 30 Maret masuk Weda dari Jakarta. “Saat itu juga kita mulai memantau, pada proses di hari ke 4, ada peningkatan gejala,” ujarnya.

Dari gejala itu, katanya tim menetapkan semua kriteria tercukupi seseorang dinyatakan suspeck corona, yakni batuk, demam ataupun riwayat demam, ada peningkatan kecepatan sesak bernapas, termasuk riwayat perjalanan pasien dari wilayah terjangkit. “Dengn riwayat itu, langkah selanjutnya adalah Tim Satgas mempertimbangkan penanganan lebih lanjut dengan diputuskan dirujuk ke rumah sakit rujukan penanganan Covid-19, yakni di RSCB, Ternate,” terangnya. Selain itu, Tim Satgas telah melakukan pelacakan terhadap pasien PDP yang pernah melakukan kontak dengan orang lain selama perjalanan dari Weda tujuan Patani dengan menumpangi KM. Getsemani. “Tim Satgas dalam hal ini Puskesmas Banemo sudah mendata, siapa yang melakukan kontak langsung dengan pasien PDP itu,” tambahnya. Tim Satgas Covid-19 juga menyampaikan update data sentara jumlah orang yang masuk menjalani isolasi secara mandiri sebanyak 13 orang dari Weda Tengah dengan hasil pemeriksaan secara medis dinyatakan sehat semuanya. “Sedangkan jumlah orang masuk di Kabupaten Halteng melalui posko satgas sebanyak 7.907 orang, dengan rata-rata kunjungan per hari 559 orang,” sebut Rijja.

Dia menghimbau kepada masyarakat agar tetap tinggal di rumah, istirahat yang cukup, jaga jarak aman, mengajak keluarga bahu membahu mencegah penularan Covid-19. Sementara itu, amatan koran ini, proses evakuasi pasien PDP itu diketahui berinisial R (20) dengan alamat Desa Bobane Indah beserta pendamping tim medis Masri Hi. Masim serta didampingi ibu kandung pasien inisial FA pada Senin kemarin sekitar pukul 11.45 Wit di Pelabuhan Weda, Desa Fidijaya Kecamatan Weda Kabupaten Halteng.

Proses evakuasi dari Patani menuju Weda menggunakan speedboad Puskesmas Patani. Setelah speedboad tiba di Pelabuhan Weda dilaksanakan prosedur penyemprotan oleh tim medis dengan menggunakan APD, penyemprotan kepada pasien PDP, penyemprotan kepada ibu kandung selaku pendamping dan penyemprotan kepada pendamping medis dinas kesehatan.

Selanjutnya pasien PDP dibawa ke Ternate melalui pelabuhan Gubernur Malut, Galala. Kegiatan lanjutan melaksanakan sterilisasi/penyemprotan speedboad oleh petugas. Proses penjemputan itu juga dihadiri oleh Kapolres Halteng, AKBP Nico Andreano Setiawa, Kapolsek Weda , IPTU Komang, Kasatpol PP, Halil Andisi, Kabid Pelayanan dan Tenaga Kesehatan 3 orang, anggota Polri 15 orang dan anggota TNI 3 orang. Prosedur penjemputan PDP itu selesai 12.00 Wit. Sementara itu, informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, pasien tersebut awalnya tiba dari Jakarta dan langsung bertolak ke Patani Barat via Pelabuhan Weda dengan KM. Getsemani pada tanggal 30 Maret dengan pemeriksaan suhu badan saat itu 49°.Hingga Senin kemarin jumlah PDP yang di rawat di RS Chasan Boesoiri bertambah dari 3 daerah sehingga menjadi 10 orang. Hal itu disampaikan Juru bicara Covid-19 Pemprov Malut dr. Rosita Alkatiri Senin(6/4). Dimana untuk penambahan PDP jadi 10 orang, salah satu dari Kota Ternate, Halteng dan Kepsul yang sekarang tengah menjalani perawatan Dipuskesmas Falabisahaya untuk dirujuk ke RSUD Sanana.

Jumlah Orang Tanpa Gejala (OTG) berjumlah 83 orang, dimana terjadi penambahan 2 orang karena berasal dari kota Ternate, Orang Dalam Pemantauan 353 orang, ODP ini terjadi penambahan lima orang berasal dari Kabupaten Halsel, Halteng, Taliabu dan Kepulauan Morotai. Rosita menambahkan, pemeriksaan menggunakan Rapid Test dari jumlah 243 orang yang dilakukan, didapatkan hasil 8 orang reaktif,  masing-masing 6 Orang Tanpa Gejala (OTG),  1 Orang Dalam Pemantauan (ODP)  dan 1 orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP), sedangkan sisanya 235 orang non reaktif.

“Untuk penggunaan Rapid Test sebagai skrining atau deteksi dini, harus diinterpertasi secara hati-hati karena hasil positif tidak bisa memastikan, bahwa sudah benar terkonfirmasi hasil positif. Sedangkan hasil negatif tidak bisa menyingkirkan inveksi Covid-19, sehingga tetap berpotensi menularkan kepada orang lain,” ungkapnya.

Kata dia, berbagai hal yang bisa menyebapkan hasil negatif yaitu, belum terbentuknya antibodi saat pengambilan sampel atau masih dalam masa inkubasi, pasien atau penderita tersebut mengalami gangguan pembentukan antibody. “Hasil Rapid Test positif, maka harus dikonfirmasi degan pemeriksaan PCR, apabila hasilnya negatif maka akan dilakukan pengambilan sampel ulang 7 sampai 10 hari kemudian,” jelasnya. 

Rosita menuturkan, prosedur pemeriksaan menggunakan Rapid Test dimulai dengan mengambil sampel darah dari ujung jari yang kemudian diteteskan ke alat Rapid Test. Selanjutnya, cairan untuk menandai antibodi akan diteteskan di tempat yang sama. Hasilnya akan berupa garis yang muncul 10–15 menit setelah itu, “kami minta kepada masyarakat agar turut mengawasi lingkungannya, jika terdapat kecurigaan maka langsung melaporkan, sekaligus jangan lupa menjaga kesehatan,” tutupnya. (udy/iin)

Berikan Komentar pada "PDP Asal Halteng Pernah ke Jakarta"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*