Refleksi Hari Pendidikan Nasional : Kampus Harusnya tidak Berada di “Menara Gading” dalam Pembangunan Daerah

Kedua, sebagai pusat inovasi dan penelitian. Banyak persoalan pembangunan daerah yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui pendekatan ilmiah dan inovatif, mulai dari pengelolaan sumber daya alam, pengembangan ekonomi lokal, hingga peningkatan kualitas layanan publik. Kampus memiliki kapasitas untuk melakukan riset yang berbasis pada kebutuhan lokal (local wisdom) dan berdasarkan pada sumberdaya daerah (local resources) serta berbasis pada nilai-nilai kearifan local (local values), sehingga hasilnya dapat langsung diaplikasikan di masyarakat. Sayangnya, masih banyak penelitian yang tidak berorientasi pada pemecahan masalah konkret, melainkan lebih didorong oleh tuntutan administratif atau kepentingan akademik semata.

Ketiga, sebagai mitra strategis pemerintah daerah. Dalam era otonomi daerah, pemerintah daerah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam merancang dan melaksanakan program pembangunan. Namun, tidak semua pemerintah daerah memiliki kapasitas teknis dan sumber daya yang memadai. Di sinilah kampus dapat hadir sebagai mitra yang memberikan dukungan berbasis keilmuan, baik dalam bentuk kajian kebijakan, pendampingan program, maupun evaluasi pembangunan. Kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah akan menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan berbasis data.

Sayangnya, hubungan antara kampus dan pemerintah daerah belum sepenuhnya berjalan optimal. Dalam banyak kasus, kerja sama yang terjalin masih bersifat sporadis dan belum terlembaga serta termanajemen dengan baik. Bahkan, tidak jarang kampus berjalan sendiri dengan agenda akademiknya, sementara pemerintah daerah juga menjalankan program pembangunan tanpa melibatkan perguruan tinggi secara signifikan. Kondisi ini tentu menjadi ironi, mengingat keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, tantangan lain yang dihadapi adalah orientasi pendidikan tinggi yang masih cenderung berpusat pada pasar kerja nasional atau global, bukan pada kebutuhan lokal. Dalam perkembangan terakhir, terdapat institusi pendidikan tinggi “menginternasionalisasi” program dan kegiatan tri dharmanya untuk kepentingan akreditasi. Beriringan dengan itu, banyak mahasiswa yang setelah lulus lebih memilih untuk bekerja di kota besar atau bahkan di luar negeri, karena dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Akibatnya, daerah kehilangan potensi SDM berkualitas yang seharusnya dapat berkontribusi langsung terhadap pembangunan lokal. Fenomena ini sering disebut sebagai brain drain, yang dalam jangka panjang dapat menghambat kemajuan daerah.

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, diperlukan transformasi paradigma dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Kampus harus mulai membuka diri dan keluar dari zona nyaman “menara gading”. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan mengintegrasikan kurikulum berbasis kebutuhan daerah. Kurikulum di program studi perlu dirancang dengan mempertimbangkan potensi dan tantangan lokal, sehingga lulusan yang dihasilkan memiliki kompetensi yang relevan dengan konteks daerahnya, tanpa menafikan tantangan dan peluang global.