Selain itu, perlu diperkuat program experiential learning, atau dalam jargon Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi “kampus berdampak” seperti magang, kuliah kerja nyata, dan proyek berbasis masyarakat. Melalui program-program ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat langsung dalam menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat. Pengalaman ini akan membentuk karakter mahasiswa yang lebih adaptif, kreatif, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Dalam bidang penelitian, kampus perlu mendorong riset-riset terapan yang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat. Skema pendanaan penelitian juga sebaiknya diarahkan untuk mendukung inovasi yang dapat diimplementasikan di daerah. Selain itu, hasil penelitian harus didiseminasikan secara lebih luas dan mudah diakses oleh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan pelaku usaha. Pemerintah daerah juga harus berani mengundang dan memprogramkan kegiatan desiminasi hasil penelitian yang dilakukan oleh kampus untuk pembangunan daerahnya.
Pengabdian kepada masyarakat juga perlu direvitalisasi agar tidak sekadar menjadi kegiatan formalitas. Kampus harus membangun program pengabdian yang berkelanjutan dan berbasis kebutuhan masyarakat. Pendekatan partisipatif, di mana masyarakat dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan program, akan meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan kegiatan pengabdian.
Tidak kalah penting adalah membangun ekosistem kolaborasi yang kuat antara kampus, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat. Model quadruple helix yang melibatkan keempat aktor tersebut dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam mendorong inovasi dan pembangunan daerah. Kampus tidak bisa bekerja sendiri, ia membutuhkan dukungan dan sinergi dari berbagai pihak untuk menghasilkan dampak yang signifikan.
Momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi titik balik untuk memperkuat komitmen semua pihak dalam mereformasi peran pendidikan tinggi. Pemerintah pusat perlu menciptakan kebijakan yang mendorong perguruan tinggi untuk lebih berorientasi pada pembangunan daerah, misalnya melalui insentif bagi kampus yang aktif melakukan pengabdian dan riset terapan di daerah. Pemerintah daerah juga perlu lebih proaktif dalam menggandeng perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam pembangunan.
Sementara itu, pihak kampus sendiri harus berani melakukan introspeksi dan perubahan. Sudah saatnya perguruan tinggi meninggalkan pola eksklusif dan mulai membangun pendekatan yang lebih inklusif dan kontekstual. Kampus harus hadir di tengah masyarakat, memahami kebutuhan mereka, dan bersama-sama mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi. Keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah lulusan atau publikasi ilmiah, tetapi dari sejauh mana ia mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kampus yang hebat bukanlah kampus yang berdiri dengan bangunan megah dan fasilitas modern, melainkan kampus yang mampu menjadi motor penggerak pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Refleksi Hari Pendidikan Nasional ini mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak selalu terlihat secara instan. Namun, dengan komitmen yang kuat dan langkah-langkah strategis yang tepat, pendidikan tinggi dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun daerah yang maju, mandiri, dan berdaya saing. Kampus tidak boleh lagi berada di “menara gading”. Ia harus turun, berbaur, dan bekerja bersama masyarakat untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.(*)
