DARUBA – Dalam tiga hari terakhir, peserta karantina di Pulau Morotai diresahkan dengan makanan tak layak dari Gugus Tugas (Gustu) Covid-19 Pulau Morotai.
Dari informasi yang dirangkum Fajar Malut, kasus ini sudah dua kali meresahkan warga yang dikarantina dalam beberapa hari terakhir ini. Kasus pertama terjadi di tempat karantina SMP Unggulan satu pada 6 Agustus lalu. Baru berselang beberapa hari, Sabtu (8/8/2020), salah satu netizen atas nama Simith Cocu kembali mengunggah postingan makanan yang tak layak dikonsumsi warga yang karantina di Hotel Sahid di akun facebooknya.
“Makanan isi ulat/kotoran lalat. (menu makan siang peserta karantina Hotel Sahid Morotai). Ini manusia yang di karantina jadi layani layaknya manusia. Semoga dapat diperbaiki untuk hari-hari esok,” tulis Simith dalam unggahannya.
Unggahan Simith banyak dikomentari netizan, dan banyak pula netizen yang membagikan unggahan Simith tersebut. Hal ini lantas membuat sejumlah akademisi Unipas angkat bicara.
“Bupati sebagai Ketua Gustu covid-19 Kabupaten Pulau Morotai harus bertanggungjawab atas kejadian ditemukannya belatung/ulat di makanan orang yang di karantina. Jika Bupati tidak mau bertanggungjawab, maka hentikan saja karantina karena tidak memberikan rasa aman terhadap orang yang dikarantina,” kata Warek III Unipas Pulau Morotai Amrin Sibua dalam rilisnya yang diterima wartawan ini.
Menurutnya, kejadian seperti ini jika terjadi secara berulang kali, maka akan menimbulkan trauma terhadap orang yang sedang dan akan dikarantina. Jika sudah seperti itu, maka dipastikan akan ada gejolak dari orang yang dikarantina. Sudah begitu, penyelesaiannya hanya dengan meminta maaf dan tanda ada sanksi tegas terhadap mereka yang memberikan pelayanan makan dan minum terhadap orang yang sedang dikarantina.
Oleh karena itu, Bupati selaku ketua Gustu diminta agar mengevaluasi semua stakeholder yang terlibat agar manajemen pelaksanaan kebijakan karantina bisa lebih terarah dan terukur, dan yang lebih penting ada memberikan jaminan rasa aman terhadap warga yang dikarantina. “Jika Bupati tidak bersikap tegas, maka Bupati juga yang paling pantas memberikan pernyataan untuk menghentikan karantina,” cetus Amrin.
Terpisah, Asisten III Pemda Pulau Morotai, Rina Ishak, yang juga selaku tim yang menangani bidang catering menjelaskan, pihaknya sudah menyampaikan ke pihak catering agar selalu menjaga kebersihan dan heginisnya makanan, dan itu sudah berusaha dilakukan oleh pihak catering. Tapi tetap ada satu dua kotak makanan yang rusak. Jadi secara logika, kalau seandainya semua makanan itu rusak, berarti itu memang kelalaian pihak catering. Tapi kalau hanya satu atau dua kotak yang ada telur lalat itu tidak ada kesengajaan dari pihak catering atau Gustu. Bisa saja itu mungkin kotak makanannya terbuka dan tidak diketahui petugas sehingga dihinggapi lalat.
“Jadi sekali lagi kami sampaikan bahwa keliru kalau ada yang menganggap bahwa warga karantina sengaja diberikan makanan yang basi atau busuk, sebab kalau di sengaja itu artinya semua maknan yang diberikan itu busuk/basi,” pungkas Rina. (fay)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)

