Perbaikan Pasar Tidak Tepat Sasaran

Pasar Basanohi

SANANA – Pedagang pasar Basanohi, Desa Fogi, Kecamatan Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), menganggap perbaikan bangunan yang mereka tempati tidak tepat sasaran. Sebab, atap bangunan yang bocornya sudah setahun itu tidak diperbaiki, malah diperbaiki pipa yang tidak begitu dibutuhkan oleh pedagang.

Selain memperbaiki pipa, ada juga kipas atau turbin ventilator yang dipasang di atas atap tersebut. Anehnya, kipas yang diperbaiki itu justru membuat kondisi kebocoran semakin parah. Setiap kali hujan, pedagang harus menerima nasib buruknya karena dilanda genangan air di mana-mana.

Sebab, saluran air yang dikerjakan juga tidak dapat membantu saluran air untuk berada pada jalurnya. Akibat tak ada jalur air, akhirnya menimbulkan bau busuk di dalam pasar. Selain genangan air, jualan mereka juga basah dan rusak, sehingga membuat pedagang rugi.“ Iya, kondisi semakin parah. Kami kira dengan memperbaiki turbin ventilator itu bisa membantu kebocoran. Padahal jauh lebih parah dari sebelumnya,” kata Bia, seorang pedagang saat ditemui di tempat jualannya, Senin (31/8).

Bia mengatakan, beberapa waktu lalu ada perbaiki pipa air dan kran, akan tetapi bukan itu yang paling mereka butuhkan. Yang dibutuhkan adalah perbaikan atap, karena sudah setahun ini mereka setengah mati. “Kan aneh, yang kami butuhnya lain, yang diperbaiki lain. Kami sudah tidak mampu dengan kondisi seperti ini,” keluhnya.

Bia bertutur, setiap kali hujan dan air sudah tergenang, para pembeli tidak ada yang mau masuk ke dalam pasar. “Kalau hujan, di dalam pasar banyak sekali genangan air di mana-mana, becek, sudah pasti pembeli tidak mau masuk lagi ke tempat di mana kita berjualan,” ujarnya.

Dengan kondisi yang parah seperti ini, dia menyatakan mosi tidak percaya kepada pemerintah. “Saya tidak lagi percaya dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepsul. Terlalu banyak janji yang kami dapati, tapi sama saja,” semprot Bia.

Pedagang yang berjualan di dalam pasar itu, terbagi dua tempat, ada yang di dalam petak, ada yang berjualan di meja yang disediakan oleh pemerintah. Yang di petak, retribusinya dibayar perbulan Rp 90 ribu, sementara pedagang yang di meja bayar retribusi per hari Rp 2 ribu.

Sementara Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kepsul, Sofia Sjamlan saat dikonfirmasi via WhatsApp, yang bersangkutan tidak menanggapinya.(nai)

Berita Terkait