Soasio Tidore Bergejolak, Tak Terima Dihina Super Poram

Aksi palang jalan yang dilakukan

TIDORE – Masyarakat Kelurahan Soasio, Kecamatan Tidore, kembali bergejolak dan melakukan aksi pemalangan jalan di depan Kantor lurah Soasio, Senin, (12/06/22).

Gejolak tersebut, dipicu karena dugaan yel-yel atau nyanyian dari pendukung PS.Poram yang tergabung dalam Super Poram, dianggap berisi nada rasis dan mengancam sisi kemanusiaan warga Kelurahan Soasio, sehingga tindakan tersebut telah menyinggung semua komponen masyarakat Kelurahan Soasio, yang didalamnya terdapat para Kapita, Joguru, imam dan tokoh adat lainnya.

Dimana, dalam Yel-yel tersebut, Super Poram telah menyebut “Soasio gembel-gembel Kota Tidore dan Soasio dibunuh saja. yel-yel ini dinyanyikan pada saat PS.Poram berhadapan dengan Soasio Remaja (SSR) di babak 8 besar, ajang Sepakbola Tuguwaji Event 2022, Sabtu, (11/6/22) pekan kemarin.

Untuk itu, masyarakat kelurahan Soasio, kemudian menuntut agar pelaku pencipta lagu dugaan penghinaan melalui yel-yel yang dinyanyikan oleh Super Poram, agar segera diproses secara hukum. Sebab kata gembel dan bunuh yang ditujukan untuk Soasio telah menyinggung masyarakat banyak, karena dianggap Super Poram telah merendahkan harkat dan martabat warga Soasio.

Selain itu, mereka juga meminta agar pendukung Poram, yang saat itu ikut menyanyikan lagu tersebut, agar dapat mendatangi kelurahan Soasio, untuk menyampaikan permohonan maaf di tengah-tengah masyarakat Kelurahan Soasio secara terbuka. Jika hal ini tidak diindahkan, maka warga Soasio akan mengambil langkah yang tidak diinginkan secara bersama.

“Yel-yel yang Super Poram nyanyikan itu, kami merasa mereka telah menghina komponen masyarakat Soasio, karena Soasio, itu bukan tim sepakbola, melainkan komponen masyarakat yang berada dalam satu lingkup kelurahan, kalau tim sepak bola, itu namanya Soasio Remaja atau SSR,” ungkap perwakilan tokoh masyarakat Soasio, Abdurrahman Abubakar, saat ditemui di kantor Kelurahan Soasio, Senin, (12/06/22).

Ia melanjutkan, tujuan dari aksi protes warga Kelurahan Soasio, agar kedepan Super Poram tidak lagi melakukan hal yang sama, baik kepada warga Soasio maupun warga lainnya.

“Kami berharap setelah masalah ini, jangan lagi menyanyikan yel-yel yang tidak ada korelasinya dengan sportifitas dan fair play, lagipula Soasio dan Mareku ini tidak hanya memiliki hubungan adat, melainkan juga ada hubungan darah, maupun perkawinan,” tandasnya.

Senada disampaikan Kepala Kelurahan Soasio, Hasan Sabtu, ia mengatakan, pihaknya telah menyurat ke kelurahan Mareku untuk dimintai klarifikasi, atas keberatan masyarakat soasio terhadap yel-yel atau nyanyian pendukung Poram.

Olehnya itu, sembari menunggu jawaban dari pihak Poram Mareku, kata Hasan, pihaknya telah melimpahkan kasus ini ke ranah kepolisian untuk ditindaklanjuti.

Aksi pemalangan jalan oleh warga Kelurahan Soasio, tepatnya di depan kantor lurah Soasio, pada Senin, (12/6/22), itu, membuat Wakil Walikota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, juga ikut turun tangan.

Di Kesempatan itu, Wawali kemudian mendinginkan suasana, dan meminta kepada masyarakat Soasio agar tidak perlu melakukan pemalangan jalan, yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat banyak.

Sehingga Wawali meminta, agar persoalan ini, diserahkan kepada pihak yang berwajib untuk diproses secara hukum. Mendengar arahan Wawali, warga Soasio, lantas tidak lagi melakukan aksi pemalangan, namun masih terus menunggu hasil pemeriksaan yang nantinya ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian.

Terpisah, Pemerintah Kelurahan Mareku, kemudian melayangkan surat klarifikasi kepada Kepala Kelurahan Soasio, melalui surat resmi dari Kelurahan Mareku, dengan Nomor : 059/32.7/2022. tentang, tanggapan keberatan masyarakat Soasio terhadap yel-yel/nyanyian pendukung Poram.

Dalam surat tersebut, dijelaskan bahwa lagu gembel-gembel, adalah lagu lama yang pernah dinyanyikan pada laga Poram vs Soasio dan Poram vs tim-tim lain pada tahun 2017 di stadion Gurabati, dan tidak terjadi konflik dengan narasi lagu tersebut.

Poram dan Mareku itu berbeda, Poram adalah tim kesebelasan dan Mareku adalah nama Kelurahan (Kampung) dimana Poram berasal. Begitupun sebaliknya dengan Soasio Remaja (nama tim) dan Soasio (nama Kelurahan).

Pada redaksi “Dari pada dukung Soasio lebih baik dukung PORAMku” itu jelas menunjukan bahwa yang dimaksud Soasio pada lirik itu adalah nama tim, bukan Kelurahan Soasio atau masyarakat Soasio.

Gembel secara harfiah bisa diartikan miskin, melarat, sengsara. Sehingga, lirik Soasio gembel-gembel Kota Tidore, bermaksud bahwa Soasio Remaja sebagai tim kesebelasan dibuat sengsara, dibuat melarat, dibuat miskin kemenangan ketika berhadapan dengan Poram Mareku.

Untuk, lirik Soasio dibunuh saja, sudah jelas bahwa yang dimaksud adalah Soasio Remaja (tim kesebelasan) sekali lagi BUKAN kelurahan Soasio ataupun masyarakat Soasio, tentu maksud dari kata dibunuh adalah bahwa Super Poram bersama PS.PORAM akan terus membunuh mental lawan, membunuh psikologi pemain selama laga berlangsung, tidak ada kalimat masyarakat Soasio ataupun kelurahan Soasio

Olehnya itu, kami dengan ikhlas menerima setiap kritikan maupun saran, kami Super Poram dan kepala kelurahan Mareku meminta maaf bila yel-yel yang kami nyanyikan, di salah artikan dan menyinggung masyarakat kelurahan Soasio. Surat tersebut ditandatangani oleh kepala kelurahan Mareku, Bakri Mokoagow. (ute)

Berita Terkait