Senada dengan Wali Kota Tidore Kepulauan, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (UI) Dr. Rachma Fitriati MSi.,MSi (Han) dalam kesempatan tersebut mengatakan. “Kami memiliki riset bersama Pemkot Tidore Kepulauan untuk mewujudkan Museum Bawah Laut BMKT dan wisata selam lainnya,” ujar Rachma.
Lebih lanjut, Rahma menjelaskan, terdapat puluhan guci peninggalan Kapal Spanyol yang tenggelam abad ke-16, itu sudah diangkat ke daratan tahun 1990 an. Sayangnya, guci-guci tersebut kurang mendapat atensi dari wisatawan, terlebih disimpan begitu saja di gudang milik Pemkab Halmahera Tengah, kami memandang, jika guci-guci ini dikembalikan ke dasar laut (release) di tempat temuan semula, yaitu situs peninggalan bawah laut di Kelurahan Tongowai, maka akan menjadi obyek wisata selam yang unik dan menarik, karena tidak ditemukan di lokasi penyelaman lainnya di dunia.
“Sebagai perbandingan, puluhan wadah anggur dari keramik sebagai situs bangkai kapal Peristera yang berasal dari abad ke-5 SM menjadi objek wisata yang sangat diminati wisatawan selam di Museum Bawah Laut BMKT Parthenon of Underwater Museum di Yunani. Maka kelak, Museum Bawah Laut Tidore akan menjadi satu-satunya museum bawah laut BMKT di Indonesia, yang berisi puluhan guci peninggalan kapal Spanyol yang tenggelam abad ke-16,” ujar Rachma Fitriati, akademisi UI, Pakar Daya Saing Daerah.
“Jika Museum Bawah Laut Tidore ini terwujud, maka Kota Tidore Kepulauan akan menjadi obyek wisata bahari mendunia yang unik dan langka, bahkan bisa viral jika didukung oleh diving influencer Indonesia yang tepat seperti di Citayam Fashion Week” tutupnya. (hms)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)
