DARUBA – Sejumlah pedagang bawang rica tomat atau Barito di pasar rakyat Central Business District (CBD), Kota Daruba, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, banyak yang mulai gulung tikar.
Pasalnya, para pedagang mengaku mulai kehabisan modal akibat dari lemahnya aktivitas jual beli di pasar tersebut.
Amatan media ini, kurang lebih 15 lapak Barito sudah ditutup. Dari keterangan sejumlah pedagang setempat, 15 lapak tersebut sudah ditutup sejak bulan Mei 2022.
Musdalifah salah satu pedagang yang gulung tikar, mengaku terpaksa menutup lapaknya karena banyak barang dagangannya yang rusak membusuk karena tidak ada pembeli.
Ia berujar sudah beralih ke usaha lainnya seperti jualan gorengan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
“Sudah lama, lebih baik buat begini saja, jual kopi, jual pisang goreng. kalau jual rampah (Barito) jangan sia-siakan tong punya modal, karena tarada orang yang datang, pembeli so tarada,” ungkap Musdalifah, saat diwawancarai wartawan, Senin (19/12/2022).
Ia juga mengatakan, selain dia ada juga beberapa orang pedagang yang terpaksa berhenti berdagang dengan alasan yang sama.
“Itu banyak meja yang kosong, hampir semua dong kase tinggal, karena tong taru rica tomat deng yang lain pasti banyak yang hancur dan busuk tara laku,” akuinya.
Ia mengungkapkan, biasanya modal yang harus ia keluarkan sebesar Rp 5 juta, tidak ada keuntungan yang ia dapat. “Itu so tara bisa kembali, sampe dapa hasil Rp 1 juta juga so tara bisa, kadang satu hari cuma dapat 10 sampe paksa 50 ribu juga sulit, yang tong alami ini bukan baru Desember ini, tapi so lama banyak yang tutup,” katanya.
Senada, Yuni agen barito sekaligus pedagang pasar CBD, juga mengaku kalau daya pembeli masyarakat di pasar rakyat sangat lemah. Namun, ia masih tetap bertahan walau dalam situasi sulit seperti sekarang ini.
“Pasar so tambah jauh, tapi daya pembeli kurang, jadi dorang pemerintah harus urus kase bae-bae, supaya pembeli banyak dan ramai,” harapnya.
Bahkan, kata dia, di momen natal saat ini kondisi pasar CBD masih tetap sepi pembeli. “Setiap hari sampai tempat penampungan sampah ful karena tong buang jualan yang so busuk,” kesal Yuni.
Ia berharap ada solusi dari Pemerintah setempat dari kondisi pedagang yang kian mencekik. “Jadi kalau dari dinas bilang Morotai sejahtera, morotai bagus, turun lah lihat, jangan cuma bilang Morotai ini bagus tapi lihat di rakyat dulu,” cetusnya.
“Itu yang so tutup dong bajual kalau modal 1 juta, sabantar so tara bale jadi bagaimana torang mau maju, malahan orang takaruang, ini nyata,” pungkas Yuni. (fay)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)

