Gegara Pilkades, 2 Siswi SD di Morotai Tidak Naik Kelas

Ilustrasi

DARUBA – Dua siswi SD Inpres Libano, Kecamatan Morotai Selatan Barat (Morselbar), Sentiana Bunga dan Dea Rajab, diduga mendapat tindakan diskriminasi dari Kepala Sekolah (Kepsek) mereka, Hermina Namotemo hanya karena masalah Pemilihan Kepala Desa (Pilkades).

Dari informasi yang diterima Fajar Malut, kedua siswi tersebut diduga ditahan tidak bisa naik kelas oleh Kepsek hanya karena dendam politik Pilkades antara Kepsek dan kedua orang tua siswi.

Kasus ini pun sudah diadukan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Pulau Morotai oleh kedua orang tua siswi dan Pemerintah Desa (Pemdes) Libano.

Evan Bunga orang tua dari Sentiana Bunga saat ditemui wartawan mengaku anaknya yang mendapat tindakan tidak menyenangkan dari Kepsek tersebut, masih duduk di bangku kelas I.

Evan bercerita, awal diketahui sikap Kepsek tersebut, ketika istrinya pergi ke sekolah untuk mengambil raport anaknya. Saat itu istrinya langsung menemui Kepsek, ketika Kepsek memberikan rapor, Kepsek langsung mengatakan bahwa anaknya tidak naik kelas.

Kata Evan, istrinya pun sempat bertanya alasan anaknya tidak naik kelas, dan Kepseknya menjawab dengan mengatakan alasan anaknya tidak naik kelas karena dendam terhadap suaminya Evan.

“Kepsek bilang Mince (Istri Evan Bunga, red) ngoni punya anak tara naik kelas. Terus maitua bilang iyo sudah tara apa tong pe anak bodoh jadi tara bisa naik kelas. Tapi Kepsek bilang ceh tarada ngoni punya anak itu dia pintar di kelas, tapi yang torang tara senang itu tong punya dendam di Evan, ngoni pe laki dan itu sampe mati. Makanya itu torang yang tahan tara kase naik kelas. Sebenarnya tu dia naik kelas karena dia pintar,” ucap Evan menceritakan percakapan istrinya dengan Kepsek.