TIDORE – Jasa besar salah satu Putra Tidore yang dikenal dengan sebutan Tuan Guru, mendapat sorotan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Julukan Tuan Guru, didapat melalui penghargaan dari Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela. Tuan Guru sesunguhnya bernama Abdullah Bin Qadhi Abdussalam, ia dikenal sebagai tokoh muslim pada era penjajahan Belanda.
Jasa besar Tuan Guru di era saat itu, karena dia dianggap melawan Belanda sekaligus menyiarkan agama Islam sampai ke Afrika Selatan. Tuan Guru menurut catatan sejarahnya, pernah melawan Belanda di daerah Kesultanan Tidore, tepatnya di Patani yang saat ini masuk dalam wilayah Kabupaten Halmahera Tengah.
Akibat dari perlawanan itu, Ia kemudian ditangkap oleh Belanda, lalu diasingkan ke Batavia (Jakarta), Sri Lanka dan Cape Town (Afrika Selatan).
Tuan Guru juga dianggap sebagai imam pertama di Afrika Selatan yang memainkan peran penting dalam komunitas muslim di Melayu Tanjung. Ia menyebarkan Al-Qur’an dan menulis Al-Quran di luar kepala, sehingga ia dianggap menjadi perintis bagi komunitas muslim di Afrika Selatan.
Jasa pengajaran Islam di Afrika Selatan, dengan membentuk madrasah pertama di Cape Town, Nama Tuan Guru bahkan diabadikan oleh Pemerintah Afrika Selatan pada salah satu jembatan yang ada di Cape Town.
Atas perjuangan seorang ulama besar asal Kota Tidore Kepulauan ini, menarik perhatian Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadly Zon. Ia berjanji untuk mendukung Pemerintah Daerah Kota Tidore Kepulauan dalam mengusulkan Tuan Guru, Imam Abdullah Bin Qadhi Abdusaalam Sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia.
“Tuan Guru ini sangat terkenal di Afrika Selatan yang sudah menjadi Pahlawan Nasional, sehingga saya sangat mendukung agar Pemerintah Kota Tidore maupun Provinsi Maluku Utara dapat mengusulkan melalui sebuah prosedur, agar Tuan Guru bisa menjadi pahlawan nasional di Indonesia,” Tegas Fadly Zon, saat memberikan sambutan, pada kunjungan Kerja di Kedaton Kesultanan Tidore, Kamis (27/11/25).
Ia menambahkan, selain Tuan Guru, Tidore juga memiliki pahlawan nasional yang sangat berjasa untuk NKRI, seperti Sultan Zainal Abidin Syah yang sangat luar biasa perjuangannya di masa lalu, dengan mempertahankan wilayah Tidore dan Papua untuk bergabung ke pangkuan NKRI.
“Saya berharap dengan adanya pengakuan dari Negara kepada Sultan Zainal Abidin Sjah, kita bisa menghidupkan kembali komoditas ekosistem perjuangan beliau dengan membuat museum pahlawan nasional, sehingga perjuangan-perjuangan Sultan Zainal Abidin Sjah bisa kembali hidup di kalangan masyarakat Maluku Utara terutama Kota Tidore Kepulauan,” tuturnya.
Menanggapi hal itu, Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, mengaku kalau Pemerintah Kota Tidore sudah sangat siap dan akan terus berupaya untuk mengusulkan para pahlawan yang telah berjuang untuk negara kesatuan Republik Indonesia, sebab tanpa Tidore tidak akan ada yang namanya dari Sabang sampai Merauke.
“Dengan momentum bersejarah ini, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan telah menyusun sejumlah rencana strategis untuk memajukan sektor kebudayaan, sejarah, dan pariwisata yang ada di Kota Tidore, sehingga kami sangat membutuhkan dukungan dari Kementerian Kebudayaan untuk merealisasikan rencana strategis ini,” ujarnya.
Orang Nomor satu di Kota Tidore Kepulauan ini menegaskan, Tidore merupakan Pulau kecil yang tidak terlihat di Peta Nasional namun melahirkan sejarah besar untuk bangsa ini.
“Sebagai anak bangsa, sejarah ini bagian dari jati diri kita semua, sehingga jangan pernah melupakan sejarah, mari kita sama-sama kembangkan sejarah di daerah ini,” Ajak Muhammad Sinen.
Senada, Juga disampaikan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos, ia mengaku bahwa Pemerintah Provinsi akan terus berkoordinasi dengan pihak kesultanan Tidore maupun Pemerintah Daerah Kota Tidore untuk segera mengusulkan Tuan Guru sebagai Pahlawan Nasional sesuai prosedur.
“Kami akan berkolaborasi dan bekerjasama dengan pemkot Tidore maupun kesultanan Tidore agar segera mengusulkan Tuan Guru sebagai Pahlawan Nasional, karena beliau juga sangat dikenal di Afrika Selatan bahkan telah menjadi Pahlawan Nasional,” tutur Sherly.
Untuk itu, ia menunggu usulan dari Pemerintah Kota Tidore dan Kesultanan Tidore, untuk melengkapi dokumen yang nantinya diusulkan tuan guru sebagai Pahlawan Nasional.
Sementara Jou Sultan Tidore, Husain Sjah, mengajak para tokoh di Maluku Utara untuk memperkuat persatuan dan menjaga silaturahmi, karena kebersamaan para tokoh di daerah ini, memiliki pengaruh yang besar terhadap kemajuan Maluku Utara serta memberikan dampak Positif bagi Masyarakat.
“Dengan Bersatu dan mempererat tali silaturahmi, Maluku Utara kedepan bisa lebih baik dan maju, sehingga masyarakat dapat merasakan dampak yang positif.” tandas Sultan. (Hms/Ute)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)

