“Transparansi perusahaan kepada masyarakat merupakan fondasi penting dalam prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Keterbukaan informasi dapat mencegah misinformasi dan memperkuat kepercayaan publik bahwa perusahaan bertanggung jawab penuh terhadap proses pemulihan,” ujarnya.
Terkait langkah-langkah yang telah dilakukan PT FHT, Aqshan menilai implementasi geotube, stabilisasi lereng, serta penghentian sementara aktivitas di area terdampak menunjukkan adanya komitmen perusahaan dalam memitigasi dampak lingkungan.
“Secara akademis, langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memiliki komitmen kuat dan bertanggung jawab dalam menangani dampak yang terjadi,” tegasnya.
Ia berharap insiden tersebut dapat menjadi pelajaran penting bagi perusahaan mengingat kawasan industri ini masih dalam tahap konstruksi, sehingga sistem pengelolaan lingkungan ke depannya dapat dirancang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem sebelum operasi penuh berjalan.
“Kedepan, perusahaan perlu terus melakukan monitoring independen, memperkuat infrastruktur retensi air yang berbasis ketahanan iklim, serta menjaga komunikasi yang transparan dengan seluruh pemangku kepentingan agar proses rehabilitasi berjalan optimal dan berkelanjutan,” pungkasnya.(red)
