BOBONG – Ibu Kota Kabupaten Pulau Taliabu kini dikepung banjir akibat hujan deras yang mengguyur terjadi sejak Selasa hingga Rabu (10/6) kemari. Bobong dan Wayo adalah dua wilayah yang parah.
Amatan Fajar Malut, sejak pagi hingga siang kemarin, banjir terjadi akibat meluapnya sungai ratahaya. Tidak hanya meluap di seputaran jembatan penghubung di Desa Wayo dan Desa Talo, tetapi juga meluap dan merendam warga Dusun Fangahu, Bobong.
Selain terendam banjir, pemukiman warga Bobong juga tergenangi air akibat genangan air yang berada di sejumlah lokasi rawa, seperti Dusun Salenga, Dusun Badadi, Dusun Fangahu, Dusun Air Minggu, dan Dusun Tanjung Sari. Tak hanya itu, beberapa gedung perkantoran ikut terendaman banjir. Di Dusun Salenga, misalnya, bukan hanya rumah warga yang terendam, 3 bangunan perkantoran pemerintah setempat dan 4 gedung sekolah juga ikut terendam.
Di antaranya, Kantor Dukcapil, Kantor DPRD, Kantor Dinas Pendidikan, SMA Negeri 1 Taliabu Barat, SMK Negeri Taliabu Barat, SMP Negeri 1 Taliabu Barat dan SD Inpres Bobong. Ketinggian air rata-rata mencapai lutut orang dewasa.
Ketua DPRD Meilan Mus, dan sejumlah anggota DPRD ikut memantau, termasuk Kepala Bappeda, Syamsudin Ode Maniwi yang secara terpisah. Sementara Dinas PUPR dan BPBD terpantau melakukan pengangkutan pasir galian C yang menumpuk sepanjang draenase gunung merah bobong.
Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) belum melakukan pendataan terkait berapa jumlah rumah terendam banjir dan kerugian warga akibat peristiwa tersebut.
“Bagi warga Bobong dan Wayo yang menjadi korban banjir dapat melapor ke BPBD. Namun sampai sekarang belum ada satupun warga yang melapor,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulau Taliabu, Sutomo Teapon saat dikonfirmasi. Meski hujan mulai reda sejak sore kemarin, cuaca di ibu kota hingga malam tadi masih mendung dan berpotensi hujan lebat. (Bro)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)

