Dalam perspektif pembangunan berbasis kependudukan kata dia, telah mengisyaratkan pembangunan harus semata-mata berdasarkan kebutuhan mendasar dari apa yang diinginkan oleh masyarakat, jangan sampai sia-sia dengan kebijakan yang telah diambil dari anggaran sebesar 20 persen dari DPK, padahal output dari program ini tidak efektif.
Hal yang hampir serupa juga telah dilakukan sebelumnya oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate saat menggelar serangkaian Hari Jadi Ternate (HAJAT) ke 771 di bulan Desember tahun 2021.
Saat itu, sejumlah barangka di Kota Ternate diikutsertakan dalam festival Barangka, salah satu komponen penilaiannya adalah barangka terbersih, terlihat beberapa barangka yang menjadi objek festival kemudian dibuat sedemikian rupa, salah satunya dilakukan pengecatan tembok-tembok barangka.
Anehnya kata dia, baru berjalan belum sampai satu tahun, tembok barangka yang dicat itu telah kembali seperti sedia kala, kotor dan terdapat tumpukan sampah.
“Apakah dengan membuat lomba penanganan sampah akan membuat masyarakat sadar sampah? Saya menduga margin errornya besar jika kita bandingkan dengan kasus posisi daripada festival barangka yang telah dilakoni oleh DLH Ternate pada tahun 2021 kemarin. Buktinya sampai hari ini sampah masih terlihat berserakan di badan-badan barangka,” ucapnya.
