SOFIFI – Guru Besar Epidemologi Universitas Hasanuddin, Ridwan memetakan posisi dan perkiraan puncak pandemi covid-19 di Provinsi Maluku Utara (Malut) melalui zoom metting, kerja sama antara Pengda Persakmi Malut dan LSM Rorano Malut, Senin (13/4).
Zoom metting diikuti Sekprov Malut, Walikota Ternate dan sejumlah pejabat serta gugus tugas kabupaten/kota se-Malut. Dengan menggunakan model analisa CHIME (Covid19 Hospital Impact Model For Epidemics) yang dikembangkan oleh Penn Medicine University Of Pennsylvania AS.
Indikator yang digunakan adalah jumlah populasi Malut 1.000.000 orang, Hospital Market Share sebesar 15 persen, jumlah pasien positif 2 orang, waktu dobel time 4 hari (artinya setiap 4 hari akan ada pertambahan kasus baru dengan kelipatan dua kali) serta severity parameter. Model ini memetakan posisi pandemi covid-19 di Malut dan memperkirakan kapan puncak pandemi akan terjadi serta beberapa rekomendasi untuk kesiapan medis maupun partisipasi masyarakat.
Karena itu, Ridwan menyarankan, butuh ICU sebanyak 220 dan Ventilator sebanyak 162 unit. Selain itu, wajib hukumnya APD bagi seluruh petugas di RS dan PKM. Sebagai persiapan awal menuju puncak pandemi, maka Ridwan menyarankan agar RS menyiapkan 83 hingga 100 tempat tidur, ICU sebanyak 24 dan 16 ventilator untuk kasus baru.
Menurut Ketua Umum Persakmi ini, saat ini diproyeksikan telah terjadi infeksi di masyarakat sekitar 634 kasus. Hal ini didasarkan pada jumlah pasien yang telah positif dan dirawat sebanyak 2 orang, angka penggunaan RS sebanyak 2 persen dengan populasi 1 juta orang. Dengan waktu penggandaan kasus 4 hari, maka diperoleh waktu reproduksi sebesar 3,65 dan angka pertumbuhan kasus sebesar 18, 92 persen.
Masalahnya, lanjut Ridwan, adalah jumlah kasus yang dihitung belum seluruhnya terdeteksi karena masih dalam proses menunggu laporan kasus. Bukan secara aktif dan masif melakukan tracking, rapid test ataupun PCR dengan sasaran populasi rentan, jumlah terinfeksi maupun kelompok yang sembuh. Jika mitigasi berupa pengetatan kontak sosial (hindari kerumunan, jaga jarak, stay at home dll) bisa didorong hingga mencapai 30 persen, maka akan memperlebar waktu kasus berlipat dari 3, 65 hari menjadi 6,6 hari. Dengan demikian pertumbuhan kasus menjadi 11 persen.
Ridwan memperkirakan puncak pandemi di Malut akan terjadi pada 17 Juni 2020 dengan jumlah kasus 574. Meski begitu, Ridwan mengatakan, puncak pandemi Malut masih bisa dihindari karena Malut baru berada fase awal. Caranya adalah dengan meningkatkan cakupan mitigasi berupa social dan physical distancing, stay at home dan cuci tangan di atas 30 persen dari populasi untuk melandaikan curva pandemic.
Selain itu, menghentikan penularan kasus baru dengan memberi perlindungan pada kelompok rentan (bayi, anak-anak dan manula), mempercepat penyembuhan, melaksanakan intervensi skala menengah, karantina pulau, serta screning masif untuk memutus rantai penularan.
Hal terakhir yang disarankan adalah interversi public health dengan memprioritaskan aspek promotif dan preventif dengan pendekatan komunikasi beresiko yang baik dan mencegah terjadinya konflik horisontal di masyarakat. Kasus penolakan pemakaman jenazah pasien covid adalah salah satu contoh komunikasi yang tak sampai ke masyarakat bawah.
Sekprov Malut Samsuddin A. Kadir mengakui presentase model pandemi seperti ini sangat membantu pemda dalam memetakan kebijakan dan langkah penanganan wabah di Malut. Pemprov kini punya dasar untuk menyiapkan fasilitas RS, menghitung kebutuhan tenaga kesehatan serta mengoptimalkan koordinasi dan pembagian tugas dengan kabupaten/kota.
“Kami berterima kasih kepada Persakmi dan LSM Rorano yang sudah meminta Prof. Ridwan membuat permodelan seperti ini, selama ini kita banyak mendengar permodelan secara nasional,” kata Samsuddin.
Sementara Walikota Ternate Burhan Abdurahman juga mengakui prentase model pandemi yang dilakukan Prof Ridwan membuat semua pihak menjadi lebih terbuka dengan ancaman corona virus. Pemkot sendiri akan terus meningkatkan pengawasan di setiap pintu masuk serta memaksimalkan peran Lurah dan satuan tugas kelurahan siaga covid yang sudah dibentuk. Diketahui hingga Senin (13/4) Jumlah kasus covid-19 di Provinsi Malut perlahan mulai munurun, dibandingkan sebelumnya. Data yang dirilis tim gugus tugas Covid-19 Malut, Senin (13/4), tercatat, sebanyak 63 Orang Tanpa Gejala (OTG), 322 Orang Dalam Pemantauan (ODP), 8 orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP).
Sementara 2 orang positif covid-19, satu diantaranya dinyatakan sembuh. “Ini berdasarkan data yang tercatat di pusat data dan informasi yang dilaporkan Dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten/kota serta Kantor Kesehatan Pelabuhan (KkP) kelas III Ternate,” ungkap juru bicara gugus tugas Covid-19, dr. Rosita Alkatiri.
Rosita menyebutkan, untuk kasus OTG terjadi penurunan sebanyak 26 orang setelah melewati masa pemantaun, sehingga total untuk OTG saat ini berjumlah sebanyak 63 orang. Sementara untuk kasus ODP terjadi pengurangan yang signifikan. Kemarin sebanyak 18 orang secara kumulatif, mereka tuntas telah melewati masa pemanatauan selama 14 hari. Sementara kasus Pasien Dalam Pemantauan (PDP) masih dalam posisi 8 orang tidak ada perubahan, dan terus diawasi. “Status kasus terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 2 orang, dan satu diantaranya dinyatakan sembuh dan sudah dipulangkan,” ungkapnya.
Sementara untuk pemeriksaan rapid test yang telah dilakukan pemeriksaan kepada 456 orang dan didapatkan hasil 17 orang reaktif dengan OTG 6, 5 ODP dan 1 PDP dan 5 pelaku dari daerah terjangkit sementara sisanya 439 dengan hasil rapid test non reaktif. Untuk specimen sudah dilakukan pengiriman ke laboratorium Makassar 13 orang baik ODP, PDP maupun specimen pasien 02 yang terkonfirmasi Covid-19. “Hasil specimen sudah dikirim kemarin dan 3 hingga 4 hari baru diterima hasilnya,” ujarnya. (iin)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)


Berikan Komentar pada "Puncak Pandemi Corona di Malut Diprediksi 17 Juni"