SANANA – Program tol laut di Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), hanya sia-sia saja. Buktinya, sejumlah distributor maupun pengusaha di Kepsul tidak menjadikan tol laut sebagai transportasi angkutan bahan pokok.
Alasannya, perjalanan tol laut dari Surabaya hingga ke Sanana memakan waktu yang begitu lama. Sejak beroperasi di Kepsul pada 2018 lalu, sampai saat ini tidak bisa memangkas tingkat kemahalan bahan kebutuhan masyarakat.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Sofia Sjamlan mengatakan, sejauh ini manfaat tol laut sebagai pemutus mata rantai dan memangkas disparitas harga justru tidak dirasakan sama sekali. “Sudah sejak 2018, tapi justru belum memberikan manfaat yang diharapkan,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (16/1).
Menurut Sofia, panjangnya rute perjalanan yang ditempuh kapal tol laut menjadi alasan distirbutor dan pengusaha memilih angkutan konvensional lain, meski membayar mahal. Pasalnya, sebagian besar distributor di Sula memesan bahan bangunan maupun logistik lainnya di Makassar dan Surabaya.
Sehingga, lanjut Sofia, panjangnya rute membuat logistik yang mestinya bisa tiba dalam sepekan bahkan sampai bulanan. “Karena Sula ini pelabuhan terakhir tol laut yang bertolak dari Surabaya, sementara rutenya panjang, makanya penguasaha merasa lebih efektif pakai kapal konvensional lain karena hanya seminggu barangnya sudah sampai,” paparnya.
Sofia mengatakan, panjangnya rute tol laut, juga menjadi salah satu pemicu inflasi di Kepsul. Untuk itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk mengkomunikasikan jalur kapal tol laut. “ Karena kebutuhannya harus terus ada, sementara barangnya berbulan-bulan dilaut,” ujarnya.(nai)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)


Berikan Komentar pada "Tol Laut di Kepsul Tak Bermanfaat"