SANANA – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) dan masyarakat yang didampingi kuasa hukum, Kuswandi Buamona telah melaporkan masalah pekerjaan proyek pembangunan masjid Desa Pohea ke Polres Kepulauan Sula, Sabtu (27/6).
Ketua Umum HMI Cabang Sanana, Usman Buamona mengatakan, pekerjaan rumah ibadah tersebut terpaksa harus dilaporkan ke Polres selaku penegak hukum. Karena HMI menduga sebagian anggaran pekerjaan masjid tersebut telah dikorupsi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sebab, pekerjaan masjid tersebut sudah menghabiskan anggaran daerah Rp 4 miliar lebih. Namun, hingga kini pekerjaan tersebut belum selesai dikerjakan.
Bahkan, kata dia, kondisi masjid tersebut saat ini sangat memprihatinkan, karena dibiarkan terbengkalai. “Uang daerah yang dihabiskan untuk pekerjaan masjid tersebut sudah Rp 4 miliar lebih, tapi hingga kini masjid itu tidak bisa digunakan oleh warga, bahkan kondisi masjid itu cukup prihatin, karena dibiarkan terbengkalai, kami menduga ada aroma korupsi, jadi kami laporkan pada penegak hukum untuk diproses,” ungkap Usman kepada wartawan.
Usman mengatakan, berdasarkan data yang mereka peroleh, anggaran pembangunan masjid tersebut telah dialokasikan melalui APBD Kepulauan Sula selama lima tahun berturut-turut. Namun yang anehnya, pekerjaan masjid itu tidak bisa tuntas, hingga pihaknya menduga ada yang tidak beres dengan pekerjaan masjid itu.
“Kami menduga ada yang tidak beres dengan pekerjaan masjid itu, informasi yang kami dapat dari masyarakat desa Pohea, anggaran yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masjid itu hanya Rp 2 miliar lebih, tapi sekarang sudah Rp 4 miliar habis, namun belum ada hasil yang memuaskan,” semprotnya.
Dia menambahkan, bukan hanya kondisi fisik proyek yang terbengkalai. Tetapi pekerjaan masjid tersebut juga diduga asal jadi, sebab lantai II masjid itu goyang seperti ayunan ketika dinaiki oleh warga.
Hal itu diduga karena material besi yang digunakan pada lantai dua masjid tersebut tidak sesuai dengan yang ditentukan dalam kontrak. Selain itu, atap masjid tersebut bocor di beberapa titik, sehingga saat musim hujan pasti terjadi genangan air. “Kami berharap pihak Polres dapat menindak lanjuti laporan tersebut dengan segera memeriksa seluruh kontraktor yang mengerjakan masjid tersebut maupun pihak yang bertanggungjawab terhadap pekerjaan,” harap Usman.
Masjid yang telah menghabiskan anggaran Rp 4 miliar lebih itu, lanjut Usman, dikerjakan lima tahap, yakni tahap pertama pada 2015 dengan nilai anggaran Rp. 500 juta, tahap kedua di 2016 dikerjakan dengan total anggaran Rp 500 juta lebih, tahap ketiga di 2017 masih dikerjakan dengan total anggaran Rp 1 miliar lebih dan tahap empat dikerjakan dengan total anggaran Rp. 2 miliar lebih dan tahap lima di 2019 dengan total anggaran Rp 200 juta. (nai)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)

