Wisata Pantai Rorasa di Kabupaten Pulau Morotai Terancam Abrasi

Pantai Rorasa, Desa Lifao, Kecamatan Morotai Timur

DARUBA – Kondisi wisata pantai Rorasa, desa Lifao, Kecamatan Morotai Timur, makin memprihatinkan. Pantai yang dikenal dengan pemandangan indah dan pasir yang bersih itu, kini mulai kotor akibat abrasi. Kondisi tersebut mulai menurunkan minat pengunjung untuk datang ke pantai Rorasa.

Padahal, pantai tersebut walau berjarak kurang lebih 80 km dari pusat Kota Daruba, kerap menjadi pusat kunjungan warga saat menghabiskan masa liburan. Amatan Fajar Malut, pantai dengan jarak 1 km itu, pasirnya sudah banyak ditutupi batang pohon yang tumbang akibat abrasi. Paling banyak ditemukan adalah batang pohon kelapa milik petani setempat.

Warga desa Seseli Jaya, Otniel uga, yang juga pemilik lahan lokasi wisata pantai Rorasa, mengungkapkan abrasi mulai menghantam pantai tersebut sejak Desember 2021.

“Dulu tidak begini nanti sekarang, mulai dari Desember 2021 so mulai bagini, sudah 4 pohon kelapa yang roboh,” ungkap Otniel.

Otniel mengaku tinggal di pantai itu sejak tahun 1976. Namun, baru 7 bulan terakhir ia merasakan dampak yang cukup parah akibat dari abrasi, sampai-sampai membuat pohon kelapanya tumbang.

“Dari pemerintah so pernah lihat tapi tara bikin (perbaiki),” kesalnya. Dikatakan, jika terjadi musim ombak besar, maka ombak bisa sampai ke jalan umum. Menurutnya, dampak dari abrasi ini salah satunya akibat dari penambangan pasir di sekitar lokasi tersebut.

“Dulu pantai jauh sekali sampai di batu, karena orang ambil pasir di sebelah sana, tapi saya so larang so lama,” tambah dia.

Terpisah, Nining salah seorang pengunjung wisata Pantai Rorasa, mengakui keindahan dari pantai Rorasa. Olehnya itu ia merasa sedih melihat kondisi pantai yang kotor akibat pohon tumbang.

“Dulu tidak begini, sebenarnya so lama sih pas saya jalan-jalan ke Nunuhu lewat dari sini, dan hari ini saya baru tau sebenarnya kalau pantai Rorasa kondisinya sudah seperti ini,” ujarnya.

Bagi Nining, keindahan pantai Rorasa juga tidak kalah dari yang lain, jika pantai tersebut diperhatikan oleh pemerintah setempat maka bisa menjadi icon wisata yang dapat dipromosikan.

“Karena pantai ini dekat dari jalan umum, bahkan di depan tepi pantai ada sejumlah batu berlubang dan panorama yang indah. Tapi nyatanya hari ini, pantai pun rusak dan kelapa milik warga banyak yang roboh,” kesal Nining. (fay)

Berita Terkait