Lebih lanjut, Wawali mengaku bahwa peristiwa sampai terjadinya aksi kekerasan itu, bermula dari opini yang ditulis oleh Nurcholis baik di media sosial maupun di salah satu media online bertajuk “Hirup Debu Batu Bara Dapat Pahala”.
Opini tersebut, dikutip oleh Nurcholis berdasarkan pernyataan Wawali saat membuka lomba domino di Kelurahan Rum Balibunga, Kecamatan Tidore Utara berapa hari lalu. Hanya saja, opini itu tidak dijelaskan secara utuh sebagaimana yang disampaikan Wawali.
Dimana saat itu, Wawali menjelaskan ia mengajak kepada pemuda Kelurahan Rum Balibunga maupun Kelurahan Rum agar selalu ramah dalam menerima tamu yang datang dari luar.
Pasalnya, Rum merupakan gerbang utama bagi para pengunjung yang berdatangan ke Tidore, karena di Rum terdapat Pelabuhan penyeberangan maupun pelabuhan laut yang menghubungkan antara Tidore dan Ternate.
Selain itu, di Rum juga ada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), jika ada masalah mengenai PLTU, diharapkan agar bisa dibicarakan dengan baik, untuk dicarikan solusi bersama. Tidak perlu mempolemikan tentang keberadaan PLTU.
Karena para orang tua-tua di Kelurahan Rum telah menjual tanah mereka untuk kepentingan pembangunan PLTU, dan hasilnya itu, sudah mereka gunakan, ada yang pakai untuk keperluan anak sekolah, bangun rumah, beli speed boat untuk usaha, naik haji dan lain-lain.
“Waktu itu saya ingatkan kepada masyarakat dan pemuda di Rum, jika kita terus-terus menyoalkan nanti mereka (orang tua-tua) yang sudah meninggal juga akan beban dialam sana, dan kita juga turut berdosa,” jelasnya.
Untuk itu, lanjut Wawali, dengan adanya PLTU saat ini, harus dipandang dari dua sisi, yakni positif dan negatif, sisi positifnya karena PLTU memberikan penerangan lampu kepada masyarakat banyak baik di Tidore maupun Ternate, sementara negatifnya karena dia memberikan dampak berupa debu ke masyarakat Rum.
“Saya bilang jika menghirup debu akan dapat pahala, itu karena perjuangan orang rum yang terkena debu batu bara, telah memberikan dampak positif kepada masyarakat banyak. Namun bukan berarti pemerintah ikut diam soal masalah ini, melainkan terus kita awasi setiap aktifitas yang dilakukan oleh PLTU, agar tidak lagi berdampak terhadap warga Rum,” tandasnya.
Ia melanjutkan, saat kegiatan berlangsung, Nurcholis mungkin tidak berada di lokasi, sehingga ia sebatas mengutip kalimat Wawali kemudian dijadikan opini, yang pada akhirnya menimbulkan ketersinggungan di pihak keluarga. Sehingga ponakan Wawali kemudian menyambangi rumah Nurcholis yang berada di Kelurahan Rum Balibunga, dengan maksud menanyakan perihal opini tersebut.
Kebetulan, rumah Nurcholis juga berdekatan dengan rumah dari ponakan Wawali Tikep.
“Ketika keponakan saya ke rumah Nurcholis, itu juga saya tidak tahu. Namun yang saya sesali, kenapa dia (Nurcholis) harus memenggal kalimat saya tentang “Hirup Debu Batu Bara dapat Pahala”, kemudian dijadikan opini, yang pada akhirnya membuat saya dihujat, dan seolah-olah dia membenturkan saya dengan wartawan, padahal dia tidak melakukan kerja-kerja wartawan, semisal meliput dan mewawancarai,” tuturnya. (ute)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)
