IMS Jawab Keluhan Petani di Weda Selatan

Pj Bupati Halteng saat menemui para petani

WEDA – Penjabat Bupati Halmahera Tengah (Halteng) Ikram Malan Sangadji bersama istri Rallia Ikram M. Sangaji menyambangi para petani di Kecamatan Weda Selatan, Sabtu (31/12) pagi.

Agenda itu juga Pj Bupati didampingi Kapolres Halteng AKBP Moh. Zulfikar Iskandar. Kedatangan Pj Bupati itu tak disangka-sangka oleh para petani. Mereka kaget dan surprise tiba-tiba didatangi Pj Bupati saat tengah memanen dan menjemur padi.

Dalam perjalanan menuju Weda Selatan, Ikram menyempatkan diri melihat lokasi kampus AKN di desa Sosowomo, yang lahannya dimanfaatkan warga setempat  untuk menanam sayur mayur.

Melihat itu Ikram meminta kepada Kapolres Halteng AKBP Moh. Zulfikar Iskandar agar bisa menjadi petani binaan Polres Halteng di bawah kontrol Dinas Pertanian.

Usai dari situ, Ikram di damping Kapolres AKBP Moh. Zulfikar Iskandar mampir di pusat peternakan sapi.

Ikram pun meminta kepada Dinas Pertanian agar mendata hewan ternak sapi milik masyarakat agar bisa dipelihara di dalam peternakan sapi dan dijaga oleh petugas. 

“Selain itu juga saya minta kepada Kadis Pertanian agar segera mencari dokter hewan agar segera dikontrak,” pintanya.

Usai dari pusat peternakan sapi, IMS melanjutkan perjalanan ke Desa Wairoro Indah. Di sana IMS melihat langsung petani sedang memanen dan menjemur padi di sawah.

IMS pun berkomunikasi langsung dengan petani, dan mendengar langsung unek-unek petani. Bupati pun meminta waktu bertatap muka langsung dengan petani di Saung Tani.

Dari pertemuan tersebut petani mengaku sedikit terkendala saat panen, lantaran mesin panen mengalami kerusakan sehingga proses panen sedikit terlambat. Selain itu juga lantai jemuran tidak ada sehingga menggunakan terpal. 

Kendala lain adalah soal blower atau mesin pembersih padi. Serta kendala klasik adalah air atau jaringan irigasi. Sebab mereka masih menggunakan sistem tadah hujan.

Dari Wairoro Indah, Bupati melanjutkan perjalanan ke desa Kluting Jaya dan melihat langsung tanaman sayur mayur milik petani setempat.

Sentatara itu menurut Mas Dede saat diwawancara mengatakan, saat ini, saat panen mereka sedikit terkendala mesin panen padi karena mesinnya rusak. Selain itu juga lantai jemuran pun belum ada dan juga mesin blower (ngilir padi) serta masalah air. 

“Itu saja kendala kami selama ini,” ucap Mas Dede bersama istrinya Mbak Yuli saat tengah menjemur padi.

Mas Dede mengaku padi miliknya satu lahan dengan ukuran 75 x 100 meter. “Ukuran lahan tersebut kami bisa memanen padi sebanyak 80 ton,” katanya.

“Kalau padinya padat berisi itu bisa mencapai sekitar 80 ton. Dimana 1 ton bisa mencapai 22 sak karung,” akunya.

Jadi pendapatan dari hasil panen tergantung pasaran, masalahnya hasil panen itu disesuaikan dengan harga beras 10.000 per kilogram. Dikaitkan dalam 1 ton maka Rp10 juta. “Dari kesemuanya itu pendapatan bersih kami sekitar Rp40 juta,” ujarnya.

Sementara itu dari hasil diskusi dengan para petani itu, Bupati langsung merespon dengan siap membantu mengadakan mesin panen setiap desa 2 unit. “Jadi soal mesin panen saya akan adakan setiap desa dikasih dua unit,” akunya.

Sedangkan untuk mesin panen yang sering rusak, Ikram meminta Dinas Pertanian agar mencari tenaga teknisi untuk memperbaiki mesin tersebut.  “Distan, segera cari tenaga teknisi untuk memperbaiki  mesin yang rusak itu,” ujarnya.

Selain itu juga Bupati langsung meminta para petani untuk membuat grup WhatsApp yang didalamnya ada petani, penyuluh pertanian, kades serta dirinya. 

“Grup WhatsApp ini agar kita bisa mudah berkomunikasi dan mudah kontrol apabila ada kendala di lapangan,” tegasnya. Kendala irigasi selama ini. Dimana jarak irigasi sekitar 5 kilometer dan irigasi tersier belum ada. (udy)

Berita Terkait