“Selain daripada sepuluh tertinggi juga masih banyak provinsi/kabupaten kota yang diatas rata-rata nasional. Kami berharap bisa menjadi perhatian semua pihak,” tutur Tomsi Tohir.
Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Pudji Ismartini mewakili Plt. Kepala Badan Pusat Statistik menyampaikan berdasarkan tinjauan inflasi dan indeks perkembangan harga Minggu ke- 1 Maret 2024 pada kelompok makanan, minuman dan tembakau 2021-2024 (m-to-m) pada Februari 2024 kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,00 persen hingga menyumbang andil inflasi sebesar 0,29 persen yang merupakan andil terbesar dibandingkan kelompok lainnya.
Komoditas yang paling dominan memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah beras, cabai merah, telur ayam ras, daging ayam ras dan minyak goreng adapun beberapa komoditas lainnya seperti bawang merah, tomat dan cabai rawit menyumbang andil deflasi,
Lanjutnya beras penyumbang andil inflasi terbesar baik secara bulanan maupun tahunan. Untuk komoditas beras berangsur mulai terkendali dengan masuknya masa panen di beberapa sentral produksi. Di minggu pertama Maret, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras semakin berkurang.
Usai mengikuti Rakor Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2024, Staf Ahli Bidang Ekonomi Pembangunan dan Keuangan Abdul Hakim Adjam mengatakan secara nasional ada beberapa komoditas pangan yang naik misalnya beras dan cabe rawit oleh karena itu dari pihak kemendagri meminta kepada kepala daerah untuk terus memantau terkait dengan hal tersebut serta diharapkan untuk konsen terhadap gerakan menanam. (hms)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)
