Stephen mengakui, adanya insiden ini tentu kedepan menjadi pelajaran agar proses evakuasi harus sesuai persiapan-persiapan yang siap sebelum dilakukan misi kemanusiaan. “Kedepan harus betul-betul cek semua kesiapan dan juga harus memperhitungkan kondisi cuaca.” Ucapnya.
Dikatakan, SOP evakuasi harus betul-betul dilihat jangan misi evakuasi malahan yang menjadi korban. “ Keselamatan dan penyelamatan itu harus dilihat apalagi dalam keadaan malam hari. Kami juga berharap kepada satu korban jurnalis ini cepat ditemukan.” Tandasnya.
Dalam insiden yang terjadi pada Minggu (2/2) malam di perairan Gita, Kota Tidore Kepulauan, speedboat RIB 04 milik Basarnas Ternate membawa 11 anggota tim SAR gabungan. Ledakan tragis ini mengakibatkan tiga korban meninggal dunia, yaitu Bharatu Mardi Haji (anggota Polairud) serta Fadli Malagapi dan Riski Esa (anggota Basarnas). Sementara itu, Kontributor Metro TV, Sahril Helmi, masih dalam pencarian.
Empat korban luka berat telah dievakuasi menggunakan speedboat Polairud, sedangkan jenazah korban meninggal dibawa ke rumah duka dengan Kapal Basarnas Panduwinata. Tujuh korban selamat juga telah dievakuasi dan mendapatkan perawatan medis di fasilitas kesehatan terdekat. Mereka adalah: Syahran Laturua (Kasi Ops Basarnas), Ryan Azur Ali (PNS SAR Kota Ternate), Hamja Djirun (PNS SAR Kota Ternate), Darmanto Rauf (PNS SAR Kota Ternate), Maretang (PNS SAR Kota Ternate), Bripka Irwan Idris (anggota Ditpolairud Polda Malut), Bripda Putra Nusantara Ruslan (anggota Ditpolairud Polda Malut)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)
