Tarian Tradisional Ternate Meriahkan Rakernas JKPI

Peserta Yang Tampil di JKPI Yogyakarta
Peserta Yang Tampil di JKPI Yogyakarta

YOGYAKARTA – Tarian soya-soya yang merupakan tarian tradisional asal Ternate meriahkan acara malam pembukaan Rakernas ke XI Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) tahun 2025 di Kota Yogyakarta. Dimana tarian yang dibawakan sanggar dibawah asuhan Muslim Gani ini mampu memukau warga yang tamu yang hadir di pentas seni tersebut.

Dimana, pada kegiatan yang diaebut Pasar Malam Indonesia (PMI) merupakan salah satu rangkaian pembuka pelaksanaan Rakernas ke XI JKPI di Kota Yogyakarta ini, dimulai pada (5/8/2025) malam. Kegiatan yang berlangsung di Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG) selama 5-9 Agustus 2025, dan delegasi dari Kota Ternate bersama puluhan delegasi anggota JKPI menyajikan keragaman budaya, kuliner, dan kreativitas dari seluruh Nusantara, dimana pada malam pembukaan itu delegasi Kota Ternate menampilkan tarian tradisional  yakni soya-soya yang mengisahkan perlawanan warga Ternate mengusir penjajah.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Ternate Muslim Gani mengatakan, tarian yang dikemas kreasi tradisional ini menceritakan tentang Ternate masa lalu, Ternate masa kini, dan Ternate masa depan.

Dikatakannya, Ternate masa lalu merupakan sebuah daerah yang berbentuk kerajaan yang dipimpin oleh seorang Sultan. Saat itu, Ternate terkenal akan rempah- rempah terutama cengkeh dan pala, sehingga Ternate dikenal sebagai kepulauan rempah-rempah atau “Spice island”.

Masa kejayaan Kerajaan Ternate terjadi pada abad ke-16, tepatnya di bawah pemerintahan Sultan Baabullah. Pada masa itu, Ternate mencapai puncak kejayaan sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan maritim yang dominan di wilayah Nusantara bagian timur. Kondisi inilah yang memungkinkan bangsa Eropa melakukan perluasan kekuasaannya atas seluruh wilayah Kesultanan Ternate.

“Hal ini mengakibatkan pengaruh budaya barat terutama seni tari terhadap masyarakat Ternate, yang dikenal dengan tarian katreji. Karena masuknya bangsa barat untuk menjajah masyarakat Ternate, maka masyarakat Ternate berperang mengusir, melawan, dan menumpas penjajah. Masyarakat Ternate pantang menyerah mengusir penjajah dengan seni tari yang dinamakan tarian soya-soya,” jelasnya.

Menurutnya ,terinspirasi dari kelimpahan alamnya, Kota Ternate kini memiliki slogan City Branding  “Ternate Kota Rempah”. Hal ini untuk merayakan puncak kejayaan sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan maritim yang dominan di wilayah Nusantara bagian timur kala itu. Dalam  wangi aroma cengkih dan pala.

Tari Soya-Soya merupakan tarian tradisional yang menggambarkan semangat perjuangan dan persatuan masyarakat Ternate yang pantang menyerah dan tekad untuk mempertahankan wilayahnya. 

“Tari Soya-Soya merupakan tarian dengan gerakan yang khas dan menggambarkan gerakan menyerang, mengelak, dan bertahan seperti halnya ketika berperang. Saat ini, status daerah sebagai kota Ternate mengalami kemajuan yang luar biasa, baik dari pembangunan infrastruktur maupun budaya. Selain itu eksistensi komunitas sebagai wadah upaya ketahanan budaya menjamur subur di tengah derasnya arus modernisasi di Kota Ternate,” tandasnya.*
Editor : Hasim Ilyas

Berita Terkait