Lebih lanjut, Muhammad Sinen mengungkapkan, pada tahun 2026, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan berencana membangun gudang penampungan dan pengawetan hasil pertanian serta hasil laut, langkah ini diharapkan menjadi upaya strategis untuk menjadikan Kota Tidore sebagai daerah penyuplai bahan pangan di wilayah Maluku Utara, mengingat sebagian besar nelayan di provinsi ini berasal dari Tidore.
“Daya beli masyarakat Maluku Utara sangat tinggi karena keberadaan sektor tambang, oleh karena itu, kami berencana menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah pada tahun 2026 untuk menyuplai bahan pangan seperti sayur-mayur, bawang, rica, tomat (barito) serta hasil perikanan ke perusahaan-perusahaan pertambangan di daerah tersebut,” tambahnya.
Orang nomor satu di Kota Tidore Kepulauan ini menegaskan, kemajuan suatu daerah sangat ditentukan oleh kemauan dan keberanian pemerintah dalam mengambil langkah-langkah strategis untuk pembangunan.
Sementara, Deputi Perwakilan Bank Indonesia Maluku Utara, Airlangga Febriyanto, dalam sambutannya menyampaikan, tingkat inflasi di Maluku Utara hingga September 2025 tercatat sebesar 0,16%, sejalan dengan inflasi nasional.
“Kerjasama antar daerah menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) oleh Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP), kami mendorong kolaborasi antara Maluku Utara dan Sulawesi Utara untuk memperkuat konektivitas antar pedagang,” jelas Airlangga.
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)
