Terkait strategi pemasaran, Wamen Irene mengusulkan konsep “Limited Edition” untuk wilayah seperti Maluku Utara. Mengingat aksesibilitas yang menantang, strategi ini dinilai lebih efektif dibanding produksi massal (mass production).
“Maluku Utara harus diposisikan sebagai pengalaman unik yang membuat orang rela membayar mahal dan mengantri untuk mendapatkannya, seperti wisata Gorila di Uganda,” tambahnya.
Staf Khusus Presiden RI Bidang UMKM dan Teknologi, Tiar Nabila Karbala, menyoroti pentingnya literasi digital dan implementasi Artificial Intelligence (AI) bagi UMKM di daerah, menurutnya, digitalisasi tidak boleh hanya berpusat di Jakarta.
Ia juga mengapresiasi wadah kewirausahaan lokal dan menyatakan kesiapan untuk membawa para ahli dari Jakarta ke Ternate dan Tidore guna mendorong percepatan pembangunan ekonomi kreatif melalui jaringan seperti Timur Network.
Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, Ahmad Laiman dalam kesempatan tersebut, menyoroti pentingnya teknik storytelling dalam memperkenalkan daerah. Beliau mengingatkan kembali sejarah 8 November 1521, saat Sebastian D’elcano singgah di antara Pulau Maitara dan Tidore, sebuah catatan krusial yang membuktikan pada dunia bahwa bumi itu bulat.
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)
