“Kita punya Teluk Kahia Masolo di pulau Mare yang menjadi tempat lumba-lumba berkumpul, hutan lindung habitat Burung Bidadari dan sejarah dunia. Semua ini butuh narasi yang kuat agar dunia tertarik berkunjung,” ungkap Ahmad Laiman.
Sementara, Direktur Eksekutif APEKSI, Alwis Rustam, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah ikhtiar nyata untuk menghubungkan potensi lokal ke pasar global. Beliau mengapresiasi langkah proaktif Pemerintah Kota Tidore dan Ternate yang “menjemput bola” agar UMKM lokal bisa masuk ke level “bintang lima”.
Dukungan sektor swasta, seperti Artha Graha Group, Hotel Borobudur, serta keterlibatan tokoh media dan komunikasi seperti Bayu Oktara, menjadi elemen kunci dalam melatih kemampuan public speaking dan branding para penggerak ekonomi kreatif di daerah.
Acara ditutup dengan pesan kuat mengenai kemandirian. Wamen Irene Umar mengingatkan tentang “Ilmu Kepepet” kreativitas yang muncul di tengah keterbatasan anggaran dan pentingnya membangun sistem bisnis yang berkelanjutan yang tetap berjalan bahkan setelah masa jabatan pemerintahan berakhir.
Melalui Bacarita Basudara, Maluku Utara tidak lagi hanya bercerita untuk dirinya sendiri, tetapi mulai menitipkan narasinya kepada dunia sebagai harta karun nasional yang tak ternilai. (hms)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)
