Ghazali Hasan
Editor Multimedia“Boom….! boom…! boom…!” Gaduh, panik. Warga berlarian menyelamatkan diri. Asap pekat membumbung dari kompleks pelabuhan. Gudang Coprafonds, Kantor KPM dan sejumlah kantor lainnya meledak dan terbakar. Di luar kompleks pelabuhan, pemukiman Kedaton Tidore tak luput dibombardir Dai Nipon. Pesawat-pesawat tempur milik angkatan laut Jepang, masuk ke wilayah udara Ternate 7 april 1942 dan sukses mengirim 56 orang warga serta serdadu KNIL menghadap Yang Maha Kuasa.
Ternate diselimuti asap hitam selama berhari-hari dari gudang penuh kopra yang terbakar. Seorang pegawai Coprafonds dan seorang serdadu KNIL, kemudian ditemukan tewas terbakar di dalamnya. Untuk sementara, warga bertahan di lofra. Gelombang pengungsian kemudian mengalir ke Tidore dan ke lereng-lereng gunung Gamalama.
Sebelumnya, Jepang menjatuhkan bom pertamanya di Ternate pada bulan januari tahun yang sama, bertujuan memantau reaksi kekuatan Belanda. Kini, kekuatan Belanda benar-benar dilumpuhkan, target-target sasaran bom tepat ke kantong-kantong pertahanan Garnisun KNIL, berkat laporan Fujiu Egawa, seorang intel Jepang berpangkat Mayor.
Egawa selama ini menyamar sebagai pembeli mutiara dan bertani kumis kucing di Kao, Halmahera. Sedangkan Ayah dari Fujiu Egawa, adalah seorang pedagang sukses di Ternate. Di tengah dominasi Belanda, menjelang Perang Dunia II, banyak orang Jepang melakukan berbagai kegiatan, tidak sedikit diantaranya melakukan kegiatan terkait dengan intelijen, seperti perdagangan, pelayaran, dan perkebunan di Hindia Belanda.
Gerak-gerik keluarga Egawa yang bersifat intelijen mulai terlihat menjelang penyerangan Jepang ke wilayah Maluku utara. Keluarga Egawa menutup tokonya dan meninggalkan tempat itu jelang penyerbuan Jepang ke Ternate.
Sebelum perang, Egawa dikenal sebagai orang yang ramah. Saat Jepang masuk, ia tak lagi menjadi teman bagi Jeanne van Diejen, seorang pekerja sosial asal Belgia yang bersama Boesoirie dan Van der Groot berinisiatif mendatangi kapal komando dengan perahu yang didayung dua warga Ternate. Mereka meminta penghentian tembakan dan bom dari kapal dan pesawat Jepang, yang mengenai banyak warga sipil.
Saat menginjakkan kaki di kapal Hokuroku Maru, ada suara keras membentak dari kerumunan tentara, yang bergerak maju dan menatap tajam kepada Van der Groot:
“Dimana Kapten Zondag,,! Dimana Asisten Residen dan tentara,,,!” teriak Egawa. Orang yang pernah ramah bertegur sapa dengan mereka, kini menjadi bengis.
“Saya tidak tau,,” ucap Van der Groot.
“Kapten Zondag, Asisten Residen dan tentara serta orang-orang Belanda, harus sudah ada di dermaga!” Ulang Egawa, keras. Amarahnya merujuk pada bunyi perintah menyerah, dalam selebaran yang telah disebarkan pesawat tempur Jepang, sesaat sebelum pemboman. ketidakhadiran mereka di dermaga, dianggap sebagai bentuk pernyataan perang.
“Serangan akan dilakukan karena kesalahan mereka, dan kalian tidak dapat menolaknya. Ayo bicara! Di mana mereka?” Tambah Egawa dengan sedikit berteriak.
“Benar-benar saya tidak tahu.” Ucap der Groot, tegang.
Mayor Egawa berlalu dengan pandangan merendahkan, ia mengancam:
“Dalam tempo satu jam semua orang Belanda sudah harus berada di dermaga, kalau tidak ….” Ultimatum itu terhenti, karena disapa Jeanne yang memang mengenalnya. Namun ucapan kasar kembali terlontar.
“Dulu lain. Sekarang lain. Ingat itu!” sambil menghilang dikerumunan tentara.
Egawa sangat berperan dalam invasi. Jauh sebelum invasi, ia sudah mengelabui masuknya kapal-kapal perang Jepang yang diberi wajah menyerupai kapal ikan, di Halmahera. Mereka melakukan pemotretan garis pantai dan mengukur kedalaman laut di Maluku Utara. Data seperti ini sangat diperlukan untuk operasi pendaratan pasukan di Halmahera.
Kembali sebelum penyerangan.
Di timur Halmahera 5 April 1942, konvoi armada kapal perang Jepang tiba di Gane Dalam dari Bobo. Mereka menambah kekuatan lautnya dengan menitipkan kapal perang Manyo MARU serta membawa unsur-unsur Detasemen Pertama, yang terdiri dari pasukan gabungan Sasebo SNLF. Dan setelah itu, istirahat.
Lamat-lamat sebelum tengah malam 6 April, armada perang ini, langsam menuju Ternate. Saat fajar merekah 7 April 1942 Ternate sudah terlihat. Pagi menjelang siang, moncong meriam kapal-kapal perang sudah di arahkan ke Ternate. Udara diwarnai asap hitam yang membumbung ke langit, usai di bom pesawat-pesawat tempur buatan Mitshubisihi itu. Sementara Chitose, kapal perang bersenjata lengkap dengan laksamana Fujita yang berpengalaman dalam perang, sebagai pengendali invasi. Ia memberikan perlindungan dari laut bagi pendaratan Detasemen 2, yang diturunkan dari kapal perang Hakuroku Maru.
Garnisun Belanda kocar-kacir hadapi aksi ini, meski sebelumnya, latihan tempur giat dilaksanakan saat pemboman pertama Jepang, januari lalu. Pelatihan dari Asisten Residen dan Komandan KNIL Kapten Zondag, dibantu bintaranya, Sersan Saerang dan Sersan Mayor Paruntu, sia-sia karena mereka sendiri sudah lari ke Ambon. Barikade kawat berduri sepanjang Jembatan Residen hingga dermaga, plus bambu runcing dan karung pasir untuk pertempuran kota ditiap perapatan jalan, hannya menjadi pajangan.
Setengah berlari, Tersengal, Kontrolir Syirk van der Groot berupaya menemui dr.Chasan Boesoirie dan Nyonya Jeanne van Diejen, seorang pekerja sosial asal Belgia, yang sibuk menangani para korban luka akibat bom dan tembakan Jepang. Mereka terkesiap mendengar kabar, kepergian petinggi-petinggi tentara:
“Asisten Residen maupun Komandan Militer telah pergi. Tidak ada seorang pun yang berada di dermaga,,,” lapor van de Groot, dengan tegang.
Mendengar laporan de Groot, Van Diejen yang bekerja sebagai suster rumah sakit lalu berlari menuju Kedaton Sultan Ternate. Belum ada bendera putih berkibar di istana. Sebelum membombardir Ternate, Jepang sempat menebar selebaran yang berisi maklumat tuk menyerah, dengan tanda mengangkat bendera putih jika tak ingin di bom. Ia segera kembali ke rumah sakit, mengambil seprei putih dari tempat tidur pasien. Kontrolir van der Groot, mengikutinya. Keduanya lalu mengikat seprei ke sebatang bambu dan menaikkannya, disaksikan Boesoirie, tanda takluk telah dikibarkan.
Mental yang jatuh akibat serangan dadakan serta kalah jumlah dan peralatan tempur, serdadu KNIL tanpa pimpinan ini, berlarian menyelamatkan diri bersama orang-orang Eropa lainya. Mereka berlindung di Fort Oranje, lalu menyerah. Jepang menahan 150 serdadu KNIL dan memaklumatkan, Ternate ditaklukkan. Sebuah laporan lalu dikirimkan ke pusat komando Kekaisaran di Jepang:
“Kami telah mendarat di pangkalan Ternate. Tidak ada tentara Sekutu yang hadir.” lapor Kapten Morni, Devisi 16 Pengawal Angkatan Laut.
Esok harinya 8 April, pimpinan Kaigun yang menginvasi Ternate, laksamana Fujita dengan Chitose-nya, menghantam Jailolo. Jepang makin berjaya di Hindia Belanda, sementara Belanda, keok. Namun, Amerika menemukan harapan. Nimitz mendapat laporan intelijen soal kode rahasia Jepang yang berhasil dipecahkan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Jepang menggunakan kode rahasia memakai 45.000 digit angka yang mewakili kata dan ungkapan. Ahli kriptografi membongkar satu demi satu kode rahasia Jepang yang muncul, lalu dikombinasikan dengan bantuan computer. Dan, kode-pun terpecahkan. Selama tiga tahun berikutnya, Jepang hanya bisa bertahan.
Keadaan pun lamat-lamat berbalik. Jepang yang praktis menguasai Hindia Belanda, kembali di bombardier Sekutu. Dan Maluku Utara yang termasuk di dalamnya, kembali menerima resiko. Gajah sama gajah berjuang, pelanduk mati di tengah-tengahnya.*
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)
Ternate Terjepit di Tengah Pertempuran

